Hatop Adong Pinareakna, Lambat Adong Pinaimana

February 2, 2016 · Print This Article

 

Batak_Toba_HouseUngkapan ini pesan untuk berpengharapan. Diartikan secara bebas: cepat ada yang dikejar, lambat ada yang ditunggu. Pesan pengharapan, jika terjadi sesuatu yang dirasa lambat. Ada sesuatu yang ditunggu tak kunjung hadir, terasa lama datangnya, tetapi tetap berpengharapan untuk bersabar sejenak. Sering kali karena tak sanggup melewati penantian yang menunggu bersungut-sungut. “Kok lambat,” kira-kira begitu penggalan sungut-sungut orang yang menunggu. Entah menunggu apa saja.

Dalam bahasa Batak “ngernger” juga diartikan lambat, perlahan-lahan, hati-hati. Dari kata ngernger ditarik kalimat “adong pinaimana, hatop adong pinareakna.” Filosofi ini mendalam bagi orang Batak. Ungkapan ini sejurus dengan ungkapan orang Jawa alon-alon asal kelakon. Filosofi ini bukan berarti pelan-pelan asal terlaksana. Maksudnya, dalam mengerjakan sesuatu nggak perlu kemrungsung bukan berarti suka lambat, tetapi jika dalam menjalani hidup penuh dengan kehati-hatian, perlu pertimbangan dalam membuat keputusan.

Kata ungkapan di atas menyiratkan pesan agar hati-hati, penuh pertimbangan ketika melakukan segala sesuatu. Baik mencari pekerjaan, mencari jodoh. Sebaiknya tidak dilakukan secara terburu buru, tapi dijalankan dengan penuh hati-hati. Baik-buruknya perlu dipikirkan terlebih dahulu, dampak yang mungkin timbul. Membuat keputusan dengan nalar, akal sehat, rasio. Memutuskan segala sesuatu yang dijalankan tidak asal asalan, tapi penuh pertimbangan. Setiap membuat keputusan tak karena dipenuhi keinginan cepat. Sebab memperoleh hasil instan atau menghalalkan segala cara pada akhirnya tak baik. Berarti, dalam menanti sesuatu ada tujuan.

Jadi, ungkapan Batak ini bukan hanya sekedar berpesan untuk berhati-hati saja, lambat asal selamat, tapi mesti disertai kehati-hatian, pertimbangan, akal sehat, nalar, dan tujuan yang jelas dan mampu menggapainya. Contoh konkret, jika Anda ingin lebih cepat untuk mencapai tujuan, Anda harus meningkatkan kecepatan dan terus mempertahankan kecepatan, itu. Tetapi, ini diminta untuk tetap sabar, lewati seluruh proses. Orang Batak memfalsafahkan ungkapan lambat ada yang ditunggu, cepat ada yang dikejar, mengandung nilai yang masih relevan hingga sekarang ini.

Alih-alih betapa perlunya nilai ketelitian, kecermatan. Orangtua yang banyak pengalaman kelihatannya lamban, tak tergesa-gesa, karena ia itu teliti. Sudah banyak makan garam kehidupan yang getir. Tak mau seperti terantuk pada patok yang sama untuk kedua kalinya. Sementara, orang muda yang masih kurang pengalaman, belum banyal makan garam kehidupan yang getir, memandang hidup ini dari segi ketergesahan. Cepat, semangat meledak-letup, rasa optimisme yang berlebihan, maka ia itu bertindak serba cepat, tergesa-gesa pada hasilnya kerap tak maksimal.

Nilai cermat dan cepat ini perlu dijadikan satu sistem, yaitu saling membingkai. Cermat diberi berbingkai cepat dan cepat berbingkai cermat. Artinya, orangtua yang lamban karena ingin cermat, didukung oleh orang muda supaya mempercepat langkah. Sebaliknya, jika orang muda terlalu cepat, berakselerasi, orangtua menahan, menarik kebelakang. Ini namanya mendapat bijaksana.

Maka ungkapan di atas tak berlaku secara umum, yakni situasional dan berbingkai. Situasional karena adanya pernyataan asal selamat, artinya ada ranjau yang menghadang, maka gerak-gerik perlu diperlambat. Menyempurnakan cara bertindak karena ruang lingkup dibatasi, yang dikejar bisa diprediksi, sementara masih menunggu karena masih ada harapan. Kalau yang dikejar itu bergerak ataupun yang datangnya hanya sekilas, maka ingatlah cerita dalam hikayat.

Lambat ada yang ditunggu cepat ada yang dikejar, maksudnya bukan hanya pesan untuk mencarai jodoh hal ini dipakai. Memang ungkapan ini sering ditautkan pada mereka yang mencari jodoh. Padahal, prinsip ini bisa digunakan di ruang-ruang apa saja. Bahkan, dalam pekerjaan. Contoh saja, semua pekerjaan apabila dikerjakan dengan ihklas dan jujur pasti akan berhasil. Pesannya, agar terus berpengharapan, semangat diri untuk terus tingkatkan daya juang–memerangi kemiskinan.

Di portibi namangilas on. Molo ro angka parungkilon. Manang parir ngolum. Manang posi, manang dangol, manang mandoit parniahapanmu. Unang ho mardandi. Toguma tontong haporseonmu. Tuhan i do ma partanobatoanmu. Alih bahasanya, jika di dunia yang getir ini. Jika Anda menghadapi keruwetan hidup. Atau pahit hidupmu, sakitkah itu, sulitkah itu, atau kehidupanmu terasa berat seperti disengat. Jangan Anda undur. Tetap punya pengharapan, imanmu tetap teguh. Tuhanlah menjadi batu karangmu menghadapi hidup yang sulit, itu pesan moralnya.

Penulis, Hotman J Lumban Gaol (Hojot Marluga) keturunan Ompu Paranjak Ulubalang-Sundut XV dari Lumban Gaol. Bahan ini diambil dari bukunya berjudul: “Mereaktualisasi Ungkapan Filosfis Batak Jilid I”

 

 

 

foto: https://en.wikipedia.org/wiki/Rumah_adat