Membeli Marga Tidak Ada Dalam Budaya Batak

February 2, 2016 · Print This Article

Sekarang ini sangat lumrah kita lihat menyematkan marga pada seseorang pada yang bukan batak. Ada yang beralasan, itu adalah sebuah bentuk penghargaan. Tapi aku lebih melihatnya dari aspek lain. Kalau bukan pejabat negara, petinggi partai, konglomerat, perwira militer, pejabat dari negara lain, pasti dia seorang yang spesial. Ada sesuatu yang akan diperoleh dari pemargaan tersebut. Mungkin dukungan suara, atau hal lainya. Sungguh mengherankan. Megawati Sukarno Putri sebenarnya marga apasih?. Puak-puak batak berlomba memargakan mantan presiden itu.

Tulisan singkat ini adalah tentang memargakan seseorang yang hendak menikahi perempuan batak.

Saya tergeitik membaca sebuah komentar di blogku, dimana seseorang yang bukan batak, menanyakan bagiamana proses pembelian marga di masyarakat batak. Hal itu dia tanyakan ketika ia dihadapkan pada satu rencana besar, yaitu hendak menikahi seorang boru ni rajai, boru batak. Aku tertegun. Istilah membeli marga itulah membuatku tersenyum kecut.

Entah aku harus menjawabnya bagaimana supaya dia mengerti dengan gamblang. Aku bukanlah seorang yang ahli dalam persoalan adat istiadat batak ini. Namun aku menyadari bahwa bila pertanyaan tersebut tidak ku jawab maka sia-sialah saya sebagai generasi batak tidak berusaha memberikanya pemahaman mendasar. Meluruskan pengetahuanya tentang batak dan membuang pemikirannya yang salah, khusus soal marga batak.

Lagi, adalah lumrah sekarang ini kita sering mendengar  istilah manuhor marga. Siapa atau dari daerah yang pertama sekali menyebutnya demikian saya tidak tahu. Seolah marga itu adalah barang, yang bisa diperjualbelikan. Mungkin sama pemahamannya, manggadis boru dengan manggadis marga, sesuatu yang bisa ditakar dengan uang. Dan Tuhor ni Boru adalah satu sebutan yang tidak pantas tetapi semakin sering disebut, seolah menjadi kebenaran. Seorang perempuan itu juga sesuatu yang diperjualbelikan oleh orang tuanya?.

Sering ku dengar orang mengatakan “ah, dang halak batak asli i, nadituhor do margana i—dia bukan batak asli, marganya dibeli”. Bahkan yang lebih parah “Ai boru sigadison/situhoron do,– perempuan itu dijual/dibeli”, sadis memang.

Oke, kita mencoba memperkecil permasalahan “manuhor marga” seperti yang ditanyakan di blogku ( www.latteung.wordpress.com).

Pada intinya, hanya yang punya marga bataklah yang bisa melaksanakan pernikahan adat batak. Jika sebuah ikatan pernikahan akan disahkan secara adat batak, maka kedua mempelai harus menjadi orang batak. Mempunyai marga, tentunya. Dan marga-marga inilah yang menentukan siapa Dongan Tubu, Hula-hula, Boru dan Tulang.

Permasalahanya kita persempit lagi menjadi bagaimana cara membatakkan seseorang. Aku akan menulisakan menurut pemahamanku. Dan, sekali lagi, bukan proses yang akan ku jelaskan, tapi dasarnya saja.

Pernikahan secara adat batak adalah pernikahan yang berlandaskan holong, bukan materi, bukan kehendak, terpaksa, semaunya, suka-suka. Akan tetapi, pun dikatakan holong, kasih, permasalahan tidak sesimpel holong/kasih dalam pengertian Kekristenan. Hematku itu berbeda.

Holong dalam adat batak ada aturanya. Tak bisa sembarang memargakan seseorang walaupun berlandaskan holong/kasih tadi. Contoh konkritnya adalah tak bisa memargakan seseorang dengan menyematkan marga dari orang lain yang kebetulan karena si calon-batak itu suka, mungkin karena sering didengar di tipi dll.

Aturan yang ku maksud adalah sesuatu yang harus dipahami dengan benar, yaitu dan prinsip kekerabatan dalam satu keluarga. Calon marga dari seorang lelaki yang hendak dibatakkan adalah marga dari Amangboru si calon perempuan. Dan calon marga dari seorang perempuan adalah marga dari tulang si calon pengantin laki-laki.

Sangat mengherankan, kenapa istilah membeli marga ini muncul. Setahuku, proses pemargaan seseorang itu tidak menyebut nominal uang. Kalau hanya karena mengeluarkan uang sedikit untuk makan bersama ketika seseorang menggelar acara pemberian marga saya pikir tidak tepat istilah manuhor marga ini.

Anggap saja kehadiran seseorang yang bukan batak itu kedalam satu keluarga batak adalah seperti kelahiran seorang bayi. Adalah hal biasa yang seharusnya demikian, bayi yang lahir di hesek-heseki, lalu diadakan pesta kecil menyematkan nama, dan banyak lagi prosesi adat batak yang harus dilalui mulai dari bayi masih dalam kandungan hingga ketika dia menjadi dewasa.

Prinsip dasaranya sama, hanya bedanya semua prosesi adat untuk seorang jabang bayi hingga pengambilan nama, tidak ada.

Pemberian marga untuk laki-laki memang sedikit lebih rumit, karena adanya garis tarombo yang akan dikoreksi, lalu diumumkan kepada khalayak, khususnya kepada tulang. Pihak tulang melihat berenya yang baru “lahir” itu. Hak dan kewajibanya sebagai tulang akan dia jalankan. Saya tidak melihat ada proses penyerahan uang kepada sekelompok marga ketika proses pem-batak-an itu berlangsung.

Proses pemargaan itu berlangsung dengan sukacita dalam ikatan tali persaudaraan yang hangat. Tak ada yang mempermasalahkan materi. Apakah piso-piso, olop-olop, dalam bentuk nominal rupiah yang paling kecil dianggap sebagai alat pembelian marga?. Tentu tidak.

Bagi kita generasi muda batak, marilah kita menggunakan istilah yang benar ketika seorang yang bukan batak menanyakan sesuatu tentang budaya kita.