Tumpak Lumban Gaol, Menyeimbangkan Bisnis dan Spiritualitas

October 15, 2016 · Print This Article

 

tumpak-lumban-gaol

Menjadi pengusaha bukan perkara muda. Selain pertama memiliki jejak rekam yang bagus, juga perlu dimiliki seseorang pengusaha ialah keahlian di bidang bisnis yang digelutinya. Demikianlah Tumpak Lumban Gaol, memahami hal itu ketika memulai usahanya sebagai wirausaha di bidang ekpedisi.

“Satu hal yang perlu diingat, bahwa ketika memulai bisnis jasa pengiriman, mengirimkan sesuatu bukanlah satu-satunya hal yang penting. Tatkala penting adalah kewajiban menjaga keamanan barang yang dikirim,” ujar Tumpak Lumban Gaol, seorang wirausaha di bidang distribusi. Jauh sebelum merintis usaha sendiri di bidang distribusi dia sudah puluhan tahun bergelut di bisnis ini. Sebagai pengusaha tentu, sudah banyak makan asam garam berbisnis di bidang ekpedisi. “Yang perlu diperhatikan juga dipertimbangkan adalah penentuan tarif yang kompetitif, murah. Lalu jaminan tingkat keselamatan atau keamanan barang tiba sampai ke tempat.”

Kisahnya menjadi pengusaha dimulai pria asal Pollung, Humbahas, Sumatera Utara ini di perusahaan abangnya, pemilik PT Tajur. Perusahaan ini baru berdiri tahun 1973, yang berkembang di kawasan Sumatera khususnya kota Palembang. Pada masanya PT Tajur sebagai kekuatan armada ekpedisi, melayani kebutuhan akan jasa angkutan darat. Tajur sendiri artinya tampak,  memanjang, menganjur. Perusahaan ini sempat juga pernah merajai pasar pengiriman barang, utamanya melayani rute Jakarta-Sumatera.

Namun krisis tahun 1998 tak saja hanya memporak-porandakan ekonomi nasional, tetapi juga PT Tajur mengalami krisis, memang tak bangkrut, tetapi masih tetap bisa bertahan. Di saat itulah Tumpak diminta abangnya memperbincangkan sebuah keputusan terhadap kepemimpinan perusahaan. Lalu, sepakat meregenerasi kepemimpinan di PT Tajur ketika itu dipimpinnya untuk dialihkan pada anak-anak abangnya. Saat itu, dirinya adalah direktur pengelolaan dari perusahaan tersebut harus rela melepas jabatan itu. Pendek cerita dia pun keluar dari perusahaan abangnya dan mendirikan perusahaan sendiri PT Lumban Jaya Persana. Tetapi, bidang armada, angkutan barang-barang perusahaan.

“Saya merintis benar-benar dari bawah. Hanya saja pengalaman dan relasi sudah ada. Masalahnya saat itu, modalnya  amat terbatas. Apalagi satu armada truk berharga ratusan rupiah,” jelasnya. Dia kemudian harus mencari dukungan modal ke bank. Dia juga pernah dikejar-kejar oleh tunggakan, dan berbagai kisah memilukan diawal-awal merintis PT Lumban Jaya Persada sempat dikecapnya. Tetapi, sebagai pebisnis dia tetap berjubel akal untuk mencari jalan keluar. Dan, kini semua bisa dilaluinya dengan kerja keras dan ketekunan.

Hingga sekarang sudah 18 tahun usaha ini berjalan, berdiri tegak. Relatif jalan bisnis tak ada kendala, ritme bisnisnya sudah jalan. Maka, belajar di PT Tajur, sebelum perusahannya ini punya kendala, Tumpak siasati dengan sedari dini mempersiapkan pengelolaan ditangani anaknya. Kini, perusahaan ini bekerja sama dengan perusahan-perusahaan ban seperti;  PT Multi Strada yang memproduksi ban Corsa dan Goodyear. Sesekali dengan PT Sumi Rubber Indonesia selaku produsen ban Dunlop, PT Bridgestone Indonesia yang memproduksi ban Bridgestone.

Oleh karena pelayanan perusahaan PT Lumban Jaya Persada benar-benar bisa diandalkan di lapangan. Juga, bisa kerjasama dengan pengakutan dengan PT LG Electronics Indonesia. Jasa perusahaaan ini semacam distributor yang datang langsung ke pabrik. Lalu kemudian mengantar ke distributor-distributor di kawasan Sumatera. “Saya ingatkan seluruh karyawan kunci kemajuan perusahaan adalah service, pelayanan dan tepat waktu. Maka saya selalu ingatkan pada seluruh tim di kantor dan di lapangan untuk selalu ingat akan ketepatan waktu,” ujar pengusaha ekspedisi ini.

Maka, tak heran pada kolega bisnisnya juga tak menjanjikan waktu yang muluk-muluk. Misalnya, menjanjikan barang bisa terkirim dua hari, nyatanya tiga hari. Tetapi, sebaliknya dia mengatakan, barang bisa sampai empat hari tetapi rata-rata sampai tiga hari. Dan itulah membuat kerjasama dengan perusahaan sampai saat ini senantiasa langeng. Tak pernah menjanjikan muluk-muluk, justru mengerjakan lebih dari yang dijanjikan. Saat ini perusahaannya memiliki 116 armada yang rata-rata 1 kendaraan dikendalikan dua orang, sopir dan kernet. Jumlah itu dikalikan dua, ditambah puluhan karyawan di kantor pusat. Artinya, jumlah karyawan perusahaannya saat ini sekitar 230-an orang.

Hidup amat singkat

Sebagai seorang entrepreneur, Tumpak sadar hidup ini harus seimbang. Tak boleh melulu hanya memikirkan uang, materi. “Hidup ini amat singkat. Karena itu apa yang bermakna yang bisa kita lakukan, itulah yang kita lalukan.” Dia kemudian tiba pada pemikiran menyeimbangkan bisnis dengan jiwa spiritual, karena menurutnya, keduanya penting dan saling berhubungan satu sama lain.

Sebab pengalamannya dalam bisnis tanpa campur tangan Tuhan seorang pebisnis tak bisa eksis. Bisa terlena di tengah jalan. “Menyeimbangkan jasmani dan rohani merupakan kemampuan individu dalam menangani perasaan tepat atau selaras, sehingga tercapai keseimbangan dalam diri individu. Menjaga agar emosi yang merisaukan tetap terkendali merupakan kunci menuju kesejahteraan keseimbangan.”

Tumpak menikah dengan seorang gadis yang berbeda agama, seorang muslim bernama Limi. Perempuan kelahiran 21 Desember 1955 itu kemudian diberi boru Banjarnahor, marga dari ibunya. Tuhan karunia empat anak, satu putri dan tiga putra. Diawalnya, dia tentu tak memaksakan kehendak agar istrinya mengikuti imannya. Tetapi, lambat-laun istrinya pun dicerahkan, nuraninya dijamah Tuhan.

Tahun 1986, menerima Kristus dalam hidupnya. “Sejak awal saya tak memaksakan kehendak pada istrinya untuk mengikuti saya sebagai seorang Kristen. Namun sejak tahun 1986 ada perubahan yang sangat signifikan dalam diri istri saya ketika mengikuti persekutuan doa yang ada di rumah kami di bilangan Kampung Dukuh, Jakarta Timur. Tuhan menjamah hatinya.“ Sejak tahun itu kedua pasangan suami istri ini bersepakat konsen melayani di persekutuan doa yang dikoordinir gereja GPdI di rumah mereka.

“Atas pertobatan yang dialami, maka dia dibaptis dan sejak itu menjadi militan untuk terlibat melayani.” Di awal-awal, Limi memiliki bisnis catering. Jadi, saking sibuknya dulu hirau tentang kehidupan rohani, kini lebih fokus dalam pelayanan. Alih-alih sejak perjumpaan dengan Kristus, ada perubahan yang amat signifikan. Sekarang menetapkan diri sepenuh hati melayani. Di tengah-tengah waktu berbisnis, melayani juga menjadi bagian prioritas hidup keluarga ini.

Kini, keduanya melayani di persekutuan Epata yang mereka dirikan, sebagian tentu keluarga dari karyawan. Tetapi tak hanya itu, banyak juga jemaat yang hadri di kebaktian yang mereka gelar. Bahkan, menjadi ajak anak-anak mahasiswa STT untuk melayani. “Kami juga membantu beberapa STT.”

Memang, persekutuan Efata diperuntukkan untuk semua aliran, intinya okuimene. Dalam perjalanannya persekutuan ini juga pernah bernaung di bahwa koordinasi gereja POUK yang ada di Cijantung ke-39.  Tetapi, gereja POUK tak menginterpensi soal pengelolaan persekutuan. pengelolaan independen. “Kita tetap terbuka dari setiap aliran gereja, karena memang masih persekutuan walau juga mengadakan kebaktian minggu. Itu sebab belakangan kita berpikir untuk lebih afdol bergabung dengan satu sinode gereja,” ujarnya.

Beberapa waktu lalu mereka berjumpa dengan Pdt Dr Japarlin Marbun, Ketua Umum Sinode Gereja Bethel Indonesia. Dari perjumpaan itu ada semacam kerinduan untuk bergabung, persekutuan ini membuka diri untuk menjadi bagian dari GBI yang dipimpin Japarlin Marbun. “Hal ini kita sudah bicarakan dengan anggota persekutuan, agar ke depan lebih terarah dan tekoneksi dalam pembinaan jemaat.” Sebelumnya, tempat persekutuan ini berada di rumah mereka di Kampung Dukuh. Dibuat di lantai dua. Selama sembilan tahun berada disana. Tetapi, oleh berbagai masukan dan merasa lingkungan tak mendukung kemudian mereka bergumul untuk mencari tempat yang lebih permanen.

Dan, baru satu tahun yang lalu persekutuan ini mendapat tempat yang permanen. Ceritanya, suami-istri ini berdoa memohon tuntunan Tuhan memberi tempat yang baru. Keduanya kemudian berdiskusi. Tumpak berkata pada istrinya, kalau rencana Tuhan yang terbaik. Kemudian Tumpak membeli tanah di daerah Cipayung seluas 2000 meter. Lalu, bengkel di Pasar Rebo yang diperuntukkan bagi armada PT Lumban Jaya Persada berada, kemudian dipindahkan ke Cipayung.

Sementara bekas bengkel itu dibangun ulang menjadi tempat persekutuan, gereja. Kini, jadilah ruangan yang bisa menampung 200 jemaat. Sementara rumah di bilangan Kampung Dukuh tetap diperuntukkan untuk persekutuan doa setia hari Selasa dan Kamis, pukul 19-21 wib. “Kami kemudian menjadikan bengkel menjadi rumah doa untuk persekutuan. Karena memang dari Kampung Dukuh ke Pasar Rebo tak terlalu jauh,” ujar ompung sembilan cucu itu. Saat ini sudah sekitar 100 anggota keluarga yang tergabung dalam persekutuan Efata ini. Semoga pelayanan persekutuan Efata makin maju dan solid. (Hojot Marluga)