Mengapa Nomor Tarombo Bisa berbeda?

February 21, 2017 · Print This Article

aksara batak

Salah satu bentuk pustaha/buku di dalam tatanan kerukunan kebatakan yang tidak pernah kita sadari adalah pustaha aru-aru atau pustaha lisan. Mungkin, kita sudah banyak melihat pustaha buku, baik dalam kertas, dalam lak-lak atau kulit kayu maupun pustaha dalam bentuk tulisan di batu. Tidak semua leluhur kita mengetahui dan memahami aksara batak. Bahkan, menurut para ahli, aksara batak yang kita kenal sekarang ini adalah hasil penyempurnaan yang terus menerus diperbaharui.

Menurut seorang ahli budaya yang pernah saya ajak diskui, aksara batak itu pada mulanya tidak memiliki aturan dalam ukuran. Kesembilan belas induk atau ina ni surat bebas dituliskan dalam ukuran apa saja, terserah si penulis. Lalu, para peneliti mula-mula yaitu orang -orang barat yang datang ke toba mulai memikirkan bagaimana supaya aksara batak ini gamoang untuk dibaca bila dituliskan kedalam wadah kertas. Dari penelitian itulah tercipta satu keindahan deretan-deretan aksara batak seperti yang kita kenal seperti sekarang ini.

Perkembangan budaya akibat berinteraksinya orang-orang batak dengan suku lain ternyata menimbulkan pengaruh yang sangat kuat terhadap aksara batak. Perkembangan ini memunculkan beberapa suku kata atau aksara baru yang sebelumnya tidak ada di dalam aksara batak kuno. Sebagai contoh aksara KA dimunculkan untuk menggantikan peran HA dalam suatu kata dimana sebelumnya HA = KA. Misal Panghur bisa dituliskan menjadi Pangkur dan seterusnya.

Kembali ke topik pembahasan yaitu pustaha aru-aru.

Sebetulnya ini istilah saya saja. Pustaha aru-aru sama artinya dengan pustaha lisan. Segala sesuatunya diturunkan dari generasi tua ke generasi yang lebih muda hanya dengan ucapan. Orang batak tidak memiliki buku SOP atau buku standard operational procedure dalam aktivitas adatnya. Pada akhirnya beberapa klan/marga menciptakan suatu buku pedomanĀ  dalam tata pelaksanaan adat merga tersebut.

Para leluhur kita menyampaikan poda, sejarah marga, tabas, ilmu kanuragan, dll dalam bentuk lisan. Bila sipenerima pesan memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan memori dalam ingatanya maka pesan awal itu akan terjaga. Sebagai analogi, permainan anak-anak sekolah minggu jaman sekarang ‘kalimat berantai’, seperti itulah pesan-pesan itu sampai kepada kita. Ada pesan yang hilang dan ada pesan yang bertambah.

Dahulu, nomor tarombo tidak begitu penting karena para orang tua kita di bona pasogit masih hapal betul siap siapa saja kerabat dan tahu betul posisi partuturonya. Bila seseorang lupa partuturonya, tinggal tanya tetua yang lebih tahu. Gampang. Lambat laun, oraang batak semakin menyebar di seluruh dunia. Sebagaimana kita ketahui, patuturon itu sangat penting dalam budaya batak maka nomor tarombo menjadi salah satu sumber partuturon didalam satu rumpun marga. Apakah penomoran tarombo akan tetap lestari hingga ratusan tahun mendatang?. Jawabanya tergantung. Bila generasi mendatang memandang itu perlu, maka tarombo ini akan lestari. Tetapi bila dipandang bahwa tartombo itu hanya akan menjadi beban budaya maka semuanya akan sirna.

Secara umum, Lumban Gaol memiliki tingkatan nomor diantara 15 sampai 18 generasi. Bila kita hitung secara matematis dengan asumsi satu generasi adalah 25 tahun maka Ompunta Raja Lumban Gaol hidup sekitar 500tahun yang lalu. Betulkah Lumban Gaol itu bermula di tahun 1500?. Apakah mungkin ada tingkatan generasi yang hilang?. Jawabanya adalah bisa ya dan bisa tidak, tergantung seberapa kuat ingatan para leluhur kita menuturkan garis tarombo itu kepada generasi berikutnya. Ketiadaan pustaha lakalak/buku inilah salah satu sebab mengapa tarombo bisa berbeda.

Penyebab kedua adalah pencampur adukan partuturon di adat dengan partuturon sehari-hari. Banyak kejadian seseorang memanggil yang lain dengan sebutan abang/akkang/hahadoli, yang seharusnya adalah Ompung. Bila masing-masing memahami sebutan partuturon itu hanya karena alasan umur maka garis tarombo tidak akan hilang. Persoalanya adalah partuturon abang-adek ini tidak dismpaikan dengan cukup jelas kepada anak cucu sehingga kesalahan menjadi turun temurun.

Seseorang tidak mau dipanggil Ompung karena seumuran, maka untuk menghormati posisinya, disepakatilah mengubah panggilan dari ompung menjadi haha doli. Simpel bukan?. Ya, tetapi efeknya sangat besar, menghilangkan dua tingkat garis tarombo. Sehingga ada kejadian, seseorang yang sehari-hari kita panggil abang, di bonapasogit, tiba-tiba saja kerabatnya kita harus panggil ompung di parserahan.

I ma jo i…