Haruskah Mengganti Marga?

February 21, 2017 · Print This Article

batak_toba_houseMarga merupakan identitas yang melekat bagi orang batak yang dibawa sejak dilahirkan. Bedanya batak dengan suku atau ras di dunia ini yang menggunakan marga seperti korea, jepang, china dll adalah bahwa marga itu adalah nama yang erat kaitanya dengan hukum adat, jadi bagi orang batak, marga bukan sekedar pelengkap nama saja melainkan identitas leluhur, tanah atau daerah yang didiami para leluhur dan lain-lain.

Salah satu cara menghargai leluhur adalah dengan tidak mengganti marga

Belakangan ini ada fenomena yang muncul di beberapa klan batak, yaitu mengubah marga. Fenomena pertama adalah mengubah marga yang disematkan ketika dia lahir dengan memakai marga rumpun atau klan yang lebih besar lagi. Fenomena ini banyak terjadi dikalangan orang muda Lumban Gaol. Banyak yang dengan sengaja, tahu atau tidak tahu, mereka mengganti marga Lumban Gaol menjadi marga Marbun. Apa salah?, apa alasan mengubah marga Lumban Gaol menjadi Marbun?. Perlu diketahui, bahwa penggantian nama marga akan menimbulkan masalah baru ketika berhadapan dengan aparatur negara, kelak. Bila sudah menggunakan marga Lumban Gaol di akte kelahiran, hendaknya sampai akta kematian pun harus menggunakannya. Demikian juga bila di akte kelahiranya menggunakan marga Marbun maka sangat disarankan untuk menggunakan marga itu selamanya.

Fenomena kedua adalah munculnya marga baru yang diciptakan oleh generasi-generasi berduit tanpa memperhitungkan efek sosiologis dan antropologisnya. Betapa kacaunya bila seseorang tiba-tiba punya identitas yang berbeda dengan yang tertera di akte lahirnya. Fenomena ini menimbulkan pertentangan diantara para tetua-tetua marga, ada yang setuju ada pula yang menolak, bahkan hingga menjurus ke arah perpecahan. Sangat berbahaya bila seseorang punya kuasa, harta lalu dengan bermodal sedikit pengetahuan ia mengacaukan sistem marga.

Sebagai catatan, marga itu tidak semena nama leluhur. Bisa saja marga berasal dari nama perkampungan yang didiami para leluhur. Sebagai contoh leluhur kita JamitaMangaraja mendiami Tanah Sipoholon tepatnya di kampung Situmeang, sehingga keturunan-keturunanya menggunakan marga Situmeang, bukan marga Jamitamangaraja.

Penggantian marga Lumban Gaol menjadi Marbun banyak dilakukan oleh orang-orang muda di kota-kota besar dengan berbagai macam alasan seperti mendekatkan diri ke kedau marga dalam klan Marbun yaitu Lumban Batu dan Banjarnahor.  Penggantian marga bila sebatas identitas harian mungkin masih bisa dimaklumi. Tetapi bila sudah melakukan penggantian marga di beberapa akte kelahiran akan sangat menimbulkan masalah baru. Sebagai contoh ketika membuat akte lahir seorang bayi maka harus diingat bahwa nama orang tua harus sesuai dengan akte lahir si orang tua tersebut. Permasalahan akan muncul di kemudian hari ketika sang anak mengalami kesulitan ketika berhadapan dengan aparatur negara di mana nama orangtuanya berbeda di akta lahirnya dengan di akta lahir orang tuanya. Sebagai contoh, di akte lahir sang saya namanya adalah Jatikkos Lumban Gaol, tetapi di akte lahirnya, nama ayahnya adalah Jatikkos Marbun.

Negara tidak akan bisa memahami apakah Marbun itu sama dengan Lumban Gaol, yang bisa memahami itu hanyalah kita orang batak. Jadi, apapun alasanmu, jangan lakukan perubahan nama margamu. Bagi kita, Lumban Gaol adalah Marbun dan tanpa menggantinya di nama kitapun semua orang mengakui itu. Tetaplah gunakan marga Lumban Gaol mu sampai kapan pun juga. (amanipartogilumbangaol)

 

Foto: google.com