Arti Logo Punguan Pomparan Lumban Gaol se-Jabodetabek

February 24, 2017 · Print This Article

lg2

Arti Tulisan di Ulos

Ulos mengambarkan pemberi kehangatan. Kehangatan terjadi jika anggota saling berinteraksi. Maka dalam hubungan yang baik, ada interaksi yang dinamis dan terciptalah kehangatan. Psalm 133: 1 yang tertulis di ulos Batak, ayat Alkitab dalam bahasa Batak: Ende hananangkok sian si Daud. Ida ma, dengganna i dohot sonangnai, molo tung pungu sahundulan angka na marhahamaranggi! (bhs Indonesia: Mazmur 133: 1 Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!) menjadi landasan  atau motto punguan yang lebih akrab di sebut pungu sahundulan namarhahamaranggi.

Arti Padi dan Kapas:

Maknanya menunjukkan cita-cita untuk tercukupi kebutuhan pangan, atau makanan yang melimpah untuk seluruh anggota punguan. Sedang makna gambar kapas menunjukkan impian untuk tercukupinya kebutuhan sandang dan papan dan kebutuhan seluruh anggota punguan. Anggota punguan Lumban Gaol yang bahagia, makmur dan sejahtera. Padi dan kapas melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan. Padi dan kapas juga melambangakan usaha yang menyeluruh untuk menuju kemakmuran bersama.

Arti Tiga Pohon Pisang:

Pisang dalam bahasa Batak disebut Gaol. Lumban Gaol secara leterlet diartikan kampung pisang. Gaol sama dengan pisang. Tiga gambar pisang, satu besar dan dua kecil tersebut mengambarkan Raja Lumban Gaol memiliki dua anak: Ronggur Barita dan Tuan Jolita. Pisang diartikan tumbuhan yang berbuah manis, lembut (lambok). Pisang sifatnya lemah, tetapi menjadi kokoh oleh karena topangan antar pelepah. Pisang melambangkan kesetiaan, hidup sampai berbuah, lalu mati.

Dalam kebudayaan Batak pisang memiliki banyak makna simbolik. Pisang menjadi kado yang menyiratkan ajakan untuk senantiasa teguh dan sabar. Saat satu keluarga misalnya, mendapat musibah, biasanya keluarga dekatnya akan membawa pisang sebagai perwujudan, bahwa mereka juga merasakan kepedihan hati saudaranya. Maka, pisang disimbolkan sebagai pemberi  hidup yang manis, sebagaimana rasanya manis. Memberi pisang bagi orang Batak, hidup yang dulu pahit ke depan diharapkan hidupnya menjadi lebih manis. Dan, tak ada bagian wujud pisang yang tak bermanfaat, semua bermanfaat. Pisang bisa dikonsumsi bayi hingga orang sudah manula.

Pisang sebenarnya lemah, karena itu tak pernah tumbuh sebatang/sendiri. Pisang tak bisa tegak tumbuh jika tak ditopang pelepah yang berlapis-lapis. Oleh karena dikitari pelepah, pisang bisa tumbuh walau diterpa angin. Kenyataan ini diterjemahkan sebagai keteguhan dalam persatuan dan konsistensi dalam kebersamaan. Pisang sebelum layu dan mati terlebih dahulu melempangkan jalan kehidupan pada tunas-tunasnya yang mengitarinya. Ini jauh terjadi sebelum batang (induk) uzur, layu dimakan rayap usia. Kemudian melepuh berkalang tanah, menjadi kompos bagi tunas-tunas yang baru sedang mekar. Tunas-tunas muda inilah yang akan meneruskan tugasnya kelak. Sesungguhnya manusia juga demikian, sebagai makhluk yang dikaruniai akal, bisa berbuat lebih dari sekadar batang pisang.

Pisang juga melambangkan kemampuan beradaptasi dalam setiap situasi. Pohon pisang tumbuh di mana-mana. Di gunung dan di lembah. Di beriklim panas maupun dingin, baik tropis maupun subtropis. Tumbuh di mana saja termasuk di tempat yang gersang sekalipun. Pohon pisang bisa tumbuh kuat untuk survival dan adaptif. Begitu pula dalam hidup ini, kita harus meniru pohon pisang yang bisa hidup dimanapun, bagaimanapun keadaanya. Selalu berusaha untuk tetap hidup. Tiada mudah menyerah dengan keadaan. Akhirnya, pesan moral belajar pada pisang adalah nilai saling membantu, dan saling menyokong seperti pesan sijolo tubu masiaminaminan songon lampak ni gaol masitungkoltungkolan songon suhat di robean.

Arti Tujuh Sudut:

Angka tujuh melambangkan kesempurnaan. Angka tujuh dalam bahasa Jawa sama dengan dalam bahasa Batak disebut: pitu. Dalam geometri, segi tujuh disebut juga poligon dengan tujuh sisi dan tujuh sudut. Segi tujuh mengacu pada bentuk segi dengan tujuh sisi yang sama, bermakna setara. Dalam Alkitab angka tujuh sering digunakan mengartikan, sesuatu yang lengkap, keseluruhan.

Arti Dua Tangan Dilipat:

Dua gambar tangan yang dilipat, menopang tulisan, Pomparan Ni Raja Lumban Gaol Dohot Boruna memiliki makna; terlebih dahulu berdoa dalam setiap usaha, maka niscaya perjuangan setengahnya sudah terlalui. Lambang ini  memaknakan tentang sikap berdoa. Seluruh usaha harus dialaskan dengan doa: ora et labora, bekerja sembari berdoa. Doa adalah kekuatan penopang, pondasi, tiang-tiang bangunan keyakinan pada Tuhan. Dengan senantiasa berdoa, berserah adalah sikap atas iman. Setiap manusia pasti punya kelemahan, kekurangan karena itu kita perlu berdoa. Doa menjadi dasar pengharapan untuk bekerja. Karena dalam kehidupan ini tak bisa lepas dari hubungan dengan Tuhan. Ada usaha manusia, tetapi kekuasaan Tuhan tak boleh lepas dari keyakinan, menjadi bagian dari kehidupan. Alih-alih dua gambar tangan menggambarkan agar kita tak jemu-jemunya berdoa.

Arti Lingkaran Roda Gerigi:

Seluruh logo dilingkari dengan roda bergigi (gir) yang melambangkan ikatan persatuan yang kokoh. Bahwa anggota Punguan Pomparan ni Raja Lumban Gaol Dohot Boruna harus bekerja keras untuk menggapai cita-cita, pribadi, keluarga dan punguan. Lambang roda gerigi atau gir melambangkan semangat kerja. Filosofi etos kerja, berjuang dengan kerja keras, gigih dan tekun. Bersungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu dalam mencapai suatu tujuan.