Priscilla Hertati Lumban Gaol, dari Wushu Sanda ke Petarung MMA

May 13, 2018 · Print This Article

TEMPO.CO, Jakarta – Petarung MMA putri asal Indonesia, Priscilla Hertati Lumban Gaol, akan membuktikan jika dirinya layak menjadi juara kejuaraan tarung bebas One Championship 2018 meski ada pihak meragukan kemampuannya.

“Saya suka ketika saya menghadapi peluang dan membuktikan kalau yang skeptis terhadap saya itu salah. Saya di sini dengan tujuan. Suatu hari saya akan menjadi juara dunia,” kata Tati, panggilan akrab Priscilla dalam keterangan yang diterima media di Jakarta, Rabu 25 April 2018.

Tahapan untuk menjadi juara kejuaraan yang indentik dengan pria ini memang terbuka setelah petarung berusia 29 tahun ini menjadi salah satu petarung yang akan berlaga di One : Grit and Glory di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta, 12 Mei 2018.

Tati yang mempunyai disiplin beladiri kickboxing dan wushu ini sesuai dengan rencana akan menghadapi petarung asal Filipina, Rome Trinidad pada kelas atom. Kemenangan jelas menjadi target utama karena merupakan pijakan menuju juara dunia.

Sebelum menekuni MMA, Tati itu lama melakoni olahraga wushu. Tati bermain di nomor sanda, atau pertarungan. Prestasinya lumayan, karena dia pernah menjadi juara nasional.

Untuk tampil di JCC nanti, Tati memang memiliki bekal yang bagus setelah meraih dua kemenangan beruntun pada kejuaraan yang sama. Pertama mampu mengalahkan petarung Audreylaura Boniface dalam satu ronde pada Januari dan mengalahkan petarung Filipina, Krisna Limbaga satu bulan berikutnya.

“Saya bukan tipe yang gampang menyerah terhadap masa depan. Banyak orang yang gagal setelah mengalami kekalahan. Tapi saya tidak seperti itu orangnya. Ketiga gagal, itu justru memberikan saya pandangan yang berbeda terhadap diri saya. Saya semakin kuat,” kata petarung asal Dolok Sanggul, Sumatera Utara itu.

Perjalanan Tati untuk menjadi petarung profesional memang panjang. Bahkan, dirinya mengaku jika banyak teman yang memandang aneh karena fokus pada kegiatan yang identik dengan pria itu. Namun, seiring perjalanan waktu banyak yang memberikan dukungan.

“Beberapa teman sih dukung saya. Tapi ada juga yang tanya, kapan kamu berhenti? Kan lebih baik cari kerjaan lain dari pada berlaga, karena umur kamu terus bertambah?. Keluarga saya perhatian sekali terhadap keselamatan saya,” kata Tati lagi.

Setelah menajajaki karirnya dalam seni bela diri campuran lebih dari setahun yang lalu, Tati berpendapat bahwa seorang perempuan tetap bisa memiliki kesempatan terbuka untuk sukses di olahraga yang didominasi pria ini selama 25 tahun belakangan bukanlah sesuatu yang mustahil.

“Saya akan terus berkampanye kepada siapa pun yang tidak mengerti keindahan dari olahraga ini. Seni bela diri campuran bukan saja mengenai pertarungan. Tetapi tujuan utamanya mengeluarkan potensi diri baik bagi pria maupun perempuan. Sudah banyak bukti yang bisa kita lihat di atas ring maupun di dalam cage. Membutuhkan tenaga dan waktu yang tidak sedikit untuk mencapai potensi diri maksimal dalam olahraga ini,” terang Tati, soal kiprahnya di MMA.