Obituari: St. Talupan Lumban Gaol, SE, Ak, MM.

 “Muba Manang Mago 2020” 

Kematian setiap orang sudah ditakdirkan. Dia yang telah pergi dipanggil Tuhan tak akan kembali. Kesedihan dan tangisan keluarga yang ditinggalkan pun tak akan membuatnya kembali. Barangkali ungkapan-ungkapan itu sepertinya tak empatik. Bukan demikian. Tentulah mengikhlaskan orang yang kita kasihi, seseorang yang sangat disayangi keluarga, seseorang yang banyak berbuat di keluarga besarnya, ketika dia meninggal amat sulit mengiringi kepergiannya. Siapa tak masygul, berduka mendengar kepergiaan anggota keluarganya di keadaan seperti sekarang ini. Pun demikianlah saat saya (Jumat sore, 3 April 2020 dan langsung dikebumikan) mendapat kabar duka, uda St. Talupan Lumban Gaol, SE, Ak, MM dimuliakan Tuhan hari ini.              

Tulisan ini saya goreskan bukan ingin membuat keluarga menangis lagi, tetapi benar-benar hendak mengingat kebajikannya. Karena itu, hanya itu yang bisa saya buat mengenang segala jasanya, ulur tanganya selama masa hidup. Bagi saya, almarhum adalah penyemangat. Motivator dan teladan hidup. Hidupnya teladan. Keluarganya pun teladan. Bagi saya pribadi dia adalah satu orang yang membuat saya semangat menulis. Betapa tidak, dia tak jarang memata-matai saya menulis tentang apa. Sering memantau saya menulis. Termasuk di media sosial. Jikalau ada yang salah saya tulis, dia selalu memberi koreksi. Termasuk saat dia baru dirawat di rumah sakit, masih sempat mengomentari tulisan saya di Facebook. Namun tak pernah mematahkan semangat, justru selalu memotivasi untuk lebih teliti dan lebih mendalam lagi menarasikan tulisan dari satu gagasan.

Almarhum lahir dan besar di Kota Tarutung, Tapanuli Utara, pada 8 April 1965. Namun tak pernah lupa akan Bona Pasogitnya Sosor Tambok, Dolok Sanggul. Anak pertama dari tujuh bersaudara ini, begitu lulus dari Universitas Sumatera Utara, jurusan akuntansi, Fakultas Ekonomi tahun 1990 dia merantau ke Jakarta untuk menata karier. Puji Tuhan jalan hidupnya baik. Tuhan memberinya jalan kemudahan. Kariernya bagus. Sempat bekerja di Kalimantan Timur mengurusi perusahaan pembesar. Disana dia melanjutkan gelar Magister Keuangan di Universitas Mulawarman, lulus tahun 2004. Dan di Kalimatan dia dekat dengan almarhum Mayjen Hotma Marbun. Kedekatan keduanya selain faktor marga juga hubungan bisnis.

Dia sempat memimpin perusahaan besar milik seorang pengusaha yang pernah menjadi menteri di masa Orde Baru. Sempat menjadi pengusaha, bertenak ayam dan kolam lele di bilangan Serpong, Tangerang. Sebelum kemudian pernah menjabat Presiden Direktur PT Dharma Samudera Fishing Industries Tbk. Lalu, pengalamannya berkerja puluhan tahun di akuntan publik membawanya mendirikan kantor akuntan publik. Reputasinya bekerja di akuntan publik tak terkira lagi. Pernah berkerja di Delloite dan Brigade Bangun sebelum bergabung dengan Doli, Bambang, Sulistiyanto, Dadang & Ali. Kantor akuntannya juga berapiliasi dengan kantor akuntan internasional (www.bkr.com) yang membuatnya sering berkunjung ke luar negeri. Terakhir berkunjung ke negeri Jiran pertengahan Maret lalu.

Di masa hidupnya, selalu memberi yang terbaik bagi keluarga. Dirinya selalu antusias, melayani dan memberi pelayanan. Kepemimpinannya sangat terlihat, sebagai anak pertama, pemimpin di kantornya, ketua di komunitas-komunitasnya. Saya saksikan sendiri bagaimana hebat dirinya memimpin semua adik-adiknya, saling membantu. Hormat mereka tak kepalang jika mendengar bimbingan dan tuntunannya. Tak ada bantahan di sana. Dia menjadi pioner di keluarga, sebagai sarjana pertama di keluarga, merintis karier di bidang akutansi pertama dan tak lupa melapangkan jalan penghidupan bagi adik adik dan saudaranya yang lain di bidang ini. Dia pemimpin, tetapi bukan berarti dirinya otoriter. Ada waktunya keras demikian gayanya memimpin. Tetapi tak selalu baik keras. Penghormatan keluarga kepadanya karena kebaikan dan integritasnya. Apa yang dikatakan itulah yang dilakukannya. Di komunitas, punguan keluarganya dia selalu peduli dan empatis, selalu memberi, berbagai dan mengusahakan kerukunan di keluarga besar.

Bisa disebut kami keluarga merasakan hidupnya memberi makna. Arti kata Talupan sendiri untuk memberi makna, Talupan dalam bahasa Batak diambil dari akar kata “talup” yang bersinonim dengan kata “tama,” yang diartikan baik hati, memantaskan. Hidup memantaskan orang lain. Barangkali nama itu disematkan kedua orangtua yang juga telah lama berpulang, kepadanya waktu baru lahir agar hidupnya kelak “martalup roha,” berbaik hati untuk semua orang, sehingga setiap orang yang pernah berjumpa dengannya merasakannya. Arti nama itu melekat dalam dirinya semasa hidup. Dan memang demikianlah pengalaman saya mengenang sifatnya. Selalu mengutamakan kepentingan oranglain terlebih dahulu.

Kehidupannya dipersembahkan maksimal semasa hidup. Meninggal menjelang umur 55 tahun. Tepatnya di usia 54 tahun 11 Bulan 25 hari. Semasih hidup aktif melayani di HKBP Serpong sebagai sintua, penatua. Selain itu, Ketua Badan Audit HKBP Serpong dan Ketua Punguan Koor Ama Jetun. Meninggalkan istri Lellyane boru Siregar dan dua anak; Raoul Samuel Maringan Lumban Gaol dan Jecinia Yolanda Keyle boru Lumban Gaol. Raoul saat ini mahasiswa di Universitas Indonesia, sedangkan Kyle dibangku SMA di bilang Serpong.

Semasa hidupnya, almarhum juga sangat mencintai HKBP. Satu waktu dia bersama rekan-rekannya dari HKBP Serpong menggelar seminar nasional dengan menggelorakan tema “Muba Manang Mago 2020” di Hotel Borobudur, Jakarta, sekitar delapan tahun lalu, yang meresume seminar itu untuk mentransformasi HKBP. Dan itu membawanya bersama tim memberi pemikiran dan gagasan untuk transformasi HKBP ke depan. Pengorbanannya tak kepalang. Tak sedikit dana yang dia keluarkan termasuk ketika menyediakan akomodasi para pendeta-pendeta di Sinode Godang tempo lalu.

Selain itu, ke gereja dia juga memberi perhatiaannya pada lingkungan dan masyarakat di mana di tinggal. Di pernah tercatat ketua RT dan juga ketua parsahutan. Termasuk perhatiaanya di adat Batak. Dirinya aktif di punguan marga, termasuk di pihak “moranya” marga Siregar asal Tapanuli Selatan. Pun di punguan marganya Lumban Gaol. Di tingkat punguan Ompu dia ketua Paranjak Ulubalang. Selain itu dipercaya juga jadi Ketua I Lumban Gaol Se-Jabodetabek periode (2020-2024). Sebelumnya sukses sebagai ketua panitia menggelar Bona Taon Lumban Gaol Se-Jabodetabek, yang digelar awal Januari lalu. Begitu diminta sebagai ketua panitia, dia mengajak panitia yang terpilih untuk memikul tanggung-jawab dengan benar-benar. “Tugas ini tak bisa saya dikerjakan seorang diri. Saya berharap seluruh panitia yang telah ditetapkan bisa bersinergi kita saling kerja sama. Kita melayani bersama,” ujarnya ketika itu. Saya sendiri dimintanya jadi ketua 3 yang membidangi Humas, publikasi dan media.

Masih bening di ingatan saya ketika menyampaikan sambutannya, dia mengatakan, sangat merindukan punguan Pomparan Lumban Gaol di masa yang akan datang makin jaya dan solid. “Sebagaimana motto punguan Lumban Gaol Sejabodetabek. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Motto itu sendiri diambil dari Kitab Mazmur 133. Tentu itu berbicara tentang kerukunan, kerukunan satu keturunan,” ajaknya. Di akhir sambutannya tak lupa mengajak, khususnya kaum muda Lumban Gaol agar selalu adaptif terhadap setiap perubahan. Apalagi era ini sangat kompetitif, dan eranya membangun kerjasama menjadi sangat penting. “Kerjasama adalah kekuatan. Kenyataan, kerukunan membawa pada kerjasama, kerjasama jadi sumber kekuatan. Jika dalam organisasi tak ada kerukunan akan tersaingi dan tertinggal,” jelasnya.

Demikian juga hatinya di punguan Ompu Paranjak Ulubang, juga banyak hal yang dia buat semasa hidup. Namun ada satu program yang digagasnya di punguan Paranjak Ulubalang di Jakarta yang belum terwujud. Waktu itu, dia merencanakan napak tilas ke Bona Pasogit khusus bagi naposo yang lahir di Jakarta untuk pulang ke kampung halaman. Semacam napak tilas. Saya tanya apa motivasinya? Jawabannya agar naposo Paranjak Ulubalang nantinya makin memahami sejarah nenek-moyang, setelah menapak tilas, dan makin memahami di mana asal usulnya. Karenanya kepada saya, almarhum mendorong agar saya menulis sejarah singkat Paranjak Ulubalang. Tentang itu saya sudah penuhi dan tuliskan. Hasilnya telah dibagikan pada seluruh keturunan Paranjak Ulubang di Jakarta. Sejarah singkat itu disisipkan di buku acara Bona Taon Paranjak Ulubalang Se-Jabodetabek tahun lalu.

Dia meninggal oleh karena Covid 19 dan dikebumikan di TPU Jombang. Dekat Ulujami, Bintaro. Menyebut itu bagi saya bukan aib. Sebab serangan Covid 19 ini memang mengetirkan seluruh duni, musibah dunia. Tentu sampai sekarang dunia dikejutkan dengan kemunculan virus ini. Beritanya telah memerihkan. Tentu hanya kepasrahanlah yang patut kita sampaikan kepadaNya. Namun yang pasti setiap keadaan ini untuk mengingatkan kita bahwa pengetahuan kita terbatas. Logika kita tak mampu. Rasio kita tak hebat menghadapi setiap keadaan yang ada ini. Yang terutama meminta pertolonganNya. Kita yang hidup justru diingatkan untuk menangisi diri kita sendiri. Wabah yang saat ini masih meneror dunia justru mengingatkan kita semua, bahwa hidup sebentar saja. Rapuh dan di tubir ancaman. Maka tak ada yang dicongkakkan. Namun yang pasti kita bisa belajar dari keadaan yang buruk ini. Akhirnya, kelahiran seseorang adalah kehendakNya, demikian juga kematian juga kehendakNya. Selamat jalan amanguda. Sebab kami juga nanti menyusulmu, karena semua kita akan menghadapNya hanya saja giliran setiap kita berbeda waktunya dipanggil. (Hojot Marluga)

Hits: 206

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *