Panitia Perayaan Natal dan Pesta Bona Taon 2018 Punguan Pinompar ni Raja Lumban Gaol Dohot Boruna Sejabodetabek

June 16, 2017

stempel bonataonMinggu 11 Juni 2018 secara resmi Panitia Bona Taon Perayaan Natal dan Pesta Bonataon 2018 disahkan oleh Ketua Umum Punguan Pomparan ni Raja Lumban Gaol Dohot Boruna Sejabodetabek, Sabar Lumban Gaol, SH. Pengesahan ini juga meresmikan susunan panitia yang diketuai oleh Maringan Lumban Gaol MM dan Sekjen Bitler Lumban Gaol SH.

Adapun Surat Keputusan kepanitiaan ini adalah seperti tercantum di link berikut ini SK Panitia Bonataon Lmban Gaol

Pengesahan Panitia Natal dan Pesta Bona Taon 2018

June 16, 2017

Badan Pengurus Harian secara resmi mengesahkan Panitia Bona Taon 2018 Punguan Pomparan ni Raja Lumban Gaol di rumah ketua umum, S. Lumban Gaol SH di kawasan perumahan Usman Harun Jakarta Timur. Lewat sambutan yang disampaikan, ketua umum memberikan mandat penuh kepada seluruh panitia yang diketuai oleh Maringan Lumban Gaol MM sehingga acara yang akan dihelat pada 21 Januari 2018 itu sukses, meriah, berkesan dan memberi manfaat kepada seluruh punguan.

 

Selain Ketua umum, Sekjen J Lumban Gaol juga memberikan point – point tambahan yang perlu diperhatikan seperti akan dimulainya penerapan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga di bulan Januari dan belum selesainya pemutahiran data base keanggotaan punguan. Sekjen samngat berharap, lewat panitia bona taon ini, pemutahiran data itu akan selesai di dua bulan kedepan.

 

Arti Logo Punguan Pomparan Lumban Gaol se-Jabodetabek

February 24, 2017

lg2

Arti Tulisan di Ulos

Ulos mengambarkan pemberi kehangatan. Kehangatan terjadi jika anggota saling berinteraksi. Maka dalam hubungan yang baik, ada interaksi yang dinamis dan terciptalah kehangatan. Psalm 133: 1 yang tertulis di ulos Batak, ayat Alkitab dalam bahasa Batak: Ende hananangkok sian si Daud. Ida ma, dengganna i dohot sonangnai, molo tung pungu sahundulan angka na marhahamaranggi! (bhs Indonesia: Mazmur 133: 1 Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!) menjadi landasan  atau motto punguan yang lebih akrab di sebut pungu sahundulan namarhahamaranggi.

Arti Padi dan Kapas:

Maknanya menunjukkan cita-cita untuk tercukupi kebutuhan pangan, atau makanan yang melimpah untuk seluruh anggota punguan. Sedang makna gambar kapas menunjukkan impian untuk tercukupinya kebutuhan sandang dan papan dan kebutuhan seluruh anggota punguan. Anggota punguan Lumban Gaol yang bahagia, makmur dan sejahtera. Padi dan kapas melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan. Padi dan kapas juga melambangakan usaha yang menyeluruh untuk menuju kemakmuran bersama.

Arti Tiga Pohon Pisang:

Pisang dalam bahasa Batak disebut Gaol. Lumban Gaol secara leterlet diartikan kampung pisang. Gaol sama dengan pisang. Tiga gambar pisang, satu besar dan dua kecil tersebut mengambarkan Raja Lumban Gaol memiliki dua anak: Ronggur Barita dan Tuan Jolita. Pisang diartikan tumbuhan yang berbuah manis, lembut (lambok). Pisang sifatnya lemah, tetapi menjadi kokoh oleh karena topangan antar pelepah. Pisang melambangkan kesetiaan, hidup sampai berbuah, lalu mati.

Dalam kebudayaan Batak pisang memiliki banyak makna simbolik. Pisang menjadi kado yang menyiratkan ajakan untuk senantiasa teguh dan sabar. Saat satu keluarga misalnya, mendapat musibah, biasanya keluarga dekatnya akan membawa pisang sebagai perwujudan, bahwa mereka juga merasakan kepedihan hati saudaranya. Maka, pisang disimbolkan sebagai pemberi  hidup yang manis, sebagaimana rasanya manis. Memberi pisang bagi orang Batak, hidup yang dulu pahit ke depan diharapkan hidupnya menjadi lebih manis. Dan, tak ada bagian wujud pisang yang tak bermanfaat, semua bermanfaat. Pisang bisa dikonsumsi bayi hingga orang sudah manula.

Pisang sebenarnya lemah, karena itu tak pernah tumbuh sebatang/sendiri. Pisang tak bisa tegak tumbuh jika tak ditopang pelepah yang berlapis-lapis. Oleh karena dikitari pelepah, pisang bisa tumbuh walau diterpa angin. Kenyataan ini diterjemahkan sebagai keteguhan dalam persatuan dan konsistensi dalam kebersamaan. Pisang sebelum layu dan mati terlebih dahulu melempangkan jalan kehidupan pada tunas-tunasnya yang mengitarinya. Ini jauh terjadi sebelum batang (induk) uzur, layu dimakan rayap usia. Kemudian melepuh berkalang tanah, menjadi kompos bagi tunas-tunas yang baru sedang mekar. Tunas-tunas muda inilah yang akan meneruskan tugasnya kelak. Sesungguhnya manusia juga demikian, sebagai makhluk yang dikaruniai akal, bisa berbuat lebih dari sekadar batang pisang.

Pisang juga melambangkan kemampuan beradaptasi dalam setiap situasi. Pohon pisang tumbuh di mana-mana. Di gunung dan di lembah. Di beriklim panas maupun dingin, baik tropis maupun subtropis. Tumbuh di mana saja termasuk di tempat yang gersang sekalipun. Pohon pisang bisa tumbuh kuat untuk survival dan adaptif. Begitu pula dalam hidup ini, kita harus meniru pohon pisang yang bisa hidup dimanapun, bagaimanapun keadaanya. Selalu berusaha untuk tetap hidup. Tiada mudah menyerah dengan keadaan. Akhirnya, pesan moral belajar pada pisang adalah nilai saling membantu, dan saling menyokong seperti pesan sijolo tubu masiaminaminan songon lampak ni gaol masitungkoltungkolan songon suhat di robean.

Arti Tujuh Sudut:

Angka tujuh melambangkan kesempurnaan. Angka tujuh dalam bahasa Jawa sama dengan dalam bahasa Batak disebut: pitu. Dalam geometri, segi tujuh disebut juga poligon dengan tujuh sisi dan tujuh sudut. Segi tujuh mengacu pada bentuk segi dengan tujuh sisi yang sama, bermakna setara. Dalam Alkitab angka tujuh sering digunakan mengartikan, sesuatu yang lengkap, keseluruhan.

Arti Dua Tangan Dilipat:

Dua gambar tangan yang dilipat, menopang tulisan, Pomparan Ni Raja Lumban Gaol Dohot Boruna memiliki makna; terlebih dahulu berdoa dalam setiap usaha, maka niscaya perjuangan setengahnya sudah terlalui. Lambang ini  memaknakan tentang sikap berdoa. Seluruh usaha harus dialaskan dengan doa: ora et labora, bekerja sembari berdoa. Doa adalah kekuatan penopang, pondasi, tiang-tiang bangunan keyakinan pada Tuhan. Dengan senantiasa berdoa, berserah adalah sikap atas iman. Setiap manusia pasti punya kelemahan, kekurangan karena itu kita perlu berdoa. Doa menjadi dasar pengharapan untuk bekerja. Karena dalam kehidupan ini tak bisa lepas dari hubungan dengan Tuhan. Ada usaha manusia, tetapi kekuasaan Tuhan tak boleh lepas dari keyakinan, menjadi bagian dari kehidupan. Alih-alih dua gambar tangan menggambarkan agar kita tak jemu-jemunya berdoa.

Arti Lingkaran Roda Gerigi:

Seluruh logo dilingkari dengan roda bergigi (gir) yang melambangkan ikatan persatuan yang kokoh. Bahwa anggota Punguan Pomparan ni Raja Lumban Gaol Dohot Boruna harus bekerja keras untuk menggapai cita-cita, pribadi, keluarga dan punguan. Lambang roda gerigi atau gir melambangkan semangat kerja. Filosofi etos kerja, berjuang dengan kerja keras, gigih dan tekun. Bersungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu dalam mencapai suatu tujuan.

Mengapa Nomor Tarombo Bisa berbeda?

February 21, 2017

aksara batak

Salah satu bentuk pustaha/buku di dalam tatanan kerukunan kebatakan yang tidak pernah kita sadari adalah pustaha aru-aru atau pustaha lisan. Mungkin, kita sudah banyak melihat pustaha buku, baik dalam kertas, dalam lak-lak atau kulit kayu maupun pustaha dalam bentuk tulisan di batu. Tidak semua leluhur kita mengetahui dan memahami aksara batak. Bahkan, menurut para ahli, aksara batak yang kita kenal sekarang ini adalah hasil penyempurnaan yang terus menerus diperbaharui.

Menurut seorang ahli budaya yang pernah saya ajak diskui, aksara batak itu pada mulanya tidak memiliki aturan dalam ukuran. Kesembilan belas induk atau ina ni surat bebas dituliskan dalam ukuran apa saja, terserah si penulis. Lalu, para peneliti mula-mula yaitu orang -orang barat yang datang ke toba mulai memikirkan bagaimana supaya aksara batak ini gamoang untuk dibaca bila dituliskan kedalam wadah kertas. Dari penelitian itulah tercipta satu keindahan deretan-deretan aksara batak seperti yang kita kenal seperti sekarang ini.

Perkembangan budaya akibat berinteraksinya orang-orang batak dengan suku lain ternyata menimbulkan pengaruh yang sangat kuat terhadap aksara batak. Perkembangan ini memunculkan beberapa suku kata atau aksara baru yang sebelumnya tidak ada di dalam aksara batak kuno. Sebagai contoh aksara KA dimunculkan untuk menggantikan peran HA dalam suatu kata dimana sebelumnya HA = KA. Misal Panghur bisa dituliskan menjadi Pangkur dan seterusnya.

Kembali ke topik pembahasan yaitu pustaha aru-aru.

Sebetulnya ini istilah saya saja. Pustaha aru-aru sama artinya dengan pustaha lisan. Segala sesuatunya diturunkan dari generasi tua ke generasi yang lebih muda hanya dengan ucapan. Orang batak tidak memiliki buku SOP atau buku standard operational procedure dalam aktivitas adatnya. Pada akhirnya beberapa klan/marga menciptakan suatu buku pedoman  dalam tata pelaksanaan adat merga tersebut.

Para leluhur kita menyampaikan poda, sejarah marga, tabas, ilmu kanuragan, dll dalam bentuk lisan. Bila sipenerima pesan memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan memori dalam ingatanya maka pesan awal itu akan terjaga. Sebagai analogi, permainan anak-anak sekolah minggu jaman sekarang ‘kalimat berantai’, seperti itulah pesan-pesan itu sampai kepada kita. Ada pesan yang hilang dan ada pesan yang bertambah.

Dahulu, nomor tarombo tidak begitu penting karena para orang tua kita di bona pasogit masih hapal betul siap siapa saja kerabat dan tahu betul posisi partuturonya. Bila seseorang lupa partuturonya, tinggal tanya tetua yang lebih tahu. Gampang. Lambat laun, oraang batak semakin menyebar di seluruh dunia. Sebagaimana kita ketahui, patuturon itu sangat penting dalam budaya batak maka nomor tarombo menjadi salah satu sumber partuturon didalam satu rumpun marga. Apakah penomoran tarombo akan tetap lestari hingga ratusan tahun mendatang?. Jawabanya tergantung. Bila generasi mendatang memandang itu perlu, maka tarombo ini akan lestari. Tetapi bila dipandang bahwa tartombo itu hanya akan menjadi beban budaya maka semuanya akan sirna.

Secara umum, Lumban Gaol memiliki tingkatan nomor diantara 15 sampai 18 generasi. Bila kita hitung secara matematis dengan asumsi satu generasi adalah 25 tahun maka Ompunta Raja Lumban Gaol hidup sekitar 500tahun yang lalu. Betulkah Lumban Gaol itu bermula di tahun 1500?. Apakah mungkin ada tingkatan generasi yang hilang?. Jawabanya adalah bisa ya dan bisa tidak, tergantung seberapa kuat ingatan para leluhur kita menuturkan garis tarombo itu kepada generasi berikutnya. Ketiadaan pustaha lakalak/buku inilah salah satu sebab mengapa tarombo bisa berbeda.

Penyebab kedua adalah pencampur adukan partuturon di adat dengan partuturon sehari-hari. Banyak kejadian seseorang memanggil yang lain dengan sebutan abang/akkang/hahadoli, yang seharusnya adalah Ompung. Bila masing-masing memahami sebutan partuturon itu hanya karena alasan umur maka garis tarombo tidak akan hilang. Persoalanya adalah partuturon abang-adek ini tidak dismpaikan dengan cukup jelas kepada anak cucu sehingga kesalahan menjadi turun temurun.

Seseorang tidak mau dipanggil Ompung karena seumuran, maka untuk menghormati posisinya, disepakatilah mengubah panggilan dari ompung menjadi haha doli. Simpel bukan?. Ya, tetapi efeknya sangat besar, menghilangkan dua tingkat garis tarombo. Sehingga ada kejadian, seseorang yang sehari-hari kita panggil abang, di bonapasogit, tiba-tiba saja kerabatnya kita harus panggil ompung di parserahan.

I ma jo i…

 

Haruskah Mengganti Marga?

February 21, 2017

batak_toba_houseMarga merupakan identitas yang melekat bagi orang batak yang dibawa sejak dilahirkan. Bedanya batak dengan suku atau ras di dunia ini yang menggunakan marga seperti korea, jepang, china dll adalah bahwa marga itu adalah nama yang erat kaitanya dengan hukum adat, jadi bagi orang batak, marga bukan sekedar pelengkap nama saja melainkan identitas leluhur, tanah atau daerah yang didiami para leluhur dan lain-lain.

Salah satu cara menghargai leluhur adalah dengan tidak mengganti marga

Belakangan ini ada fenomena yang muncul di beberapa klan batak, yaitu mengubah marga. Fenomena pertama adalah mengubah marga yang disematkan ketika dia lahir dengan memakai marga rumpun atau klan yang lebih besar lagi. Fenomena ini banyak terjadi dikalangan orang muda Lumban Gaol. Banyak yang dengan sengaja, tahu atau tidak tahu, mereka mengganti marga Lumban Gaol menjadi marga Marbun. Apa salah?, apa alasan mengubah marga Lumban Gaol menjadi Marbun?. Perlu diketahui, bahwa penggantian nama marga akan menimbulkan masalah baru ketika berhadapan dengan aparatur negara, kelak. Bila sudah menggunakan marga Lumban Gaol di akte kelahiran, hendaknya sampai akta kematian pun harus menggunakannya. Demikian juga bila di akte kelahiranya menggunakan marga Marbun maka sangat disarankan untuk menggunakan marga itu selamanya.

Fenomena kedua adalah munculnya marga baru yang diciptakan oleh generasi-generasi berduit tanpa memperhitungkan efek sosiologis dan antropologisnya. Betapa kacaunya bila seseorang tiba-tiba punya identitas yang berbeda dengan yang tertera di akte lahirnya. Fenomena ini menimbulkan pertentangan diantara para tetua-tetua marga, ada yang setuju ada pula yang menolak, bahkan hingga menjurus ke arah perpecahan. Sangat berbahaya bila seseorang punya kuasa, harta lalu dengan bermodal sedikit pengetahuan ia mengacaukan sistem marga.

Sebagai catatan, marga itu tidak semena nama leluhur. Bisa saja marga berasal dari nama perkampungan yang didiami para leluhur. Sebagai contoh leluhur kita JamitaMangaraja mendiami Tanah Sipoholon tepatnya di kampung Situmeang, sehingga keturunan-keturunanya menggunakan marga Situmeang, bukan marga Jamitamangaraja.

Penggantian marga Lumban Gaol menjadi Marbun banyak dilakukan oleh orang-orang muda di kota-kota besar dengan berbagai macam alasan seperti mendekatkan diri ke kedau marga dalam klan Marbun yaitu Lumban Batu dan Banjarnahor.  Penggantian marga bila sebatas identitas harian mungkin masih bisa dimaklumi. Tetapi bila sudah melakukan penggantian marga di beberapa akte kelahiran akan sangat menimbulkan masalah baru. Sebagai contoh ketika membuat akte lahir seorang bayi maka harus diingat bahwa nama orang tua harus sesuai dengan akte lahir si orang tua tersebut. Permasalahan akan muncul di kemudian hari ketika sang anak mengalami kesulitan ketika berhadapan dengan aparatur negara di mana nama orangtuanya berbeda di akta lahirnya dengan di akta lahir orang tuanya. Sebagai contoh, di akte lahir sang saya namanya adalah Jatikkos Lumban Gaol, tetapi di akte lahirnya, nama ayahnya adalah Jatikkos Marbun.

Negara tidak akan bisa memahami apakah Marbun itu sama dengan Lumban Gaol, yang bisa memahami itu hanyalah kita orang batak. Jadi, apapun alasanmu, jangan lakukan perubahan nama margamu. Bagi kita, Lumban Gaol adalah Marbun dan tanpa menggantinya di nama kitapun semua orang mengakui itu. Tetaplah gunakan marga Lumban Gaol mu sampai kapan pun juga. (amanipartogilumbangaol)

 

Foto: google.com

 

Partangiangan awal tahun, konsolidasi dan martambaru BPH Punguan Pomparan Raja Lumban Gaol Sejabodetabek

January 24, 2017

BPH Lumbangaol jabodetabek

Partangiangan awal tahun pengurus Pomparan Lumban Gaol Sejabodetabek dilaksanakan pengan suasana penuh keakraban dan keceriaan. Acara yang dirangkai cukup sederhana itu diawali dengan ibadah kebaktian minggu. Dalam kotbahnya, pendeta menekankan bahwa sebagai umat kristiani, segenap pinompar ni Raja Lumban Gaol harus menjadi berkat bagi orang lain, khususnya bagi sesama semarga. Saling membantu dan semakin memperteguh tali persaudaraan.

Hal senada juga disampaikan oleh Ketum Punguan Lumban Gaol Sejabodetabek, Sabar Lumban Gaol, lebih spesifik beliau juga memintaa supaya setiap anak-anak yang memiliki prestasi akademis supaya dibantu hingga keperguruan tinggi, karena masa depan marga Lumban Gaol ada di tangan generasi muda. Untuk itu, kedepanya, beliau berpesan supaya semua pengurus mulai dari BPH hingga pengurus marompu-ompu memerikan yang terbaik buat Punguan Lumban Gaol.

Sementara Janwar Lumban Gaol, Sekjen Punguan Lumban Gaol menyoroti kehadiran para pengurus dalam setiap rapat-rapat dan kegiatan-kegiatan punguan. Dalam laporan tahunan yang disampaikan, ada 91 kegiatan yang telah dilaksakan dalam 2016 saja, dan akan semakin bertambah di 2017 mengingat semakin banyaknya anggota Punguan Lumban Gaol Sejabodetabek. Untuk itu perlu semakin ditingkatkanya persentasae kehadiran dalam setiap pertemuan-pertemuan pengurus dimana hal ini sangat diperlukan untuk mengsinkronkan team paradaton dengan kebutuhan anggota punguan. Hal lain yang disoroti oleh Sekjen adalah perlunya pemutaahiran database anggota punguan yang direncanakan akan dibukukan kembali di tahun ini. Peran serta pengurus wilayah dan pengurus marompu-ompu menjadi ujungtombak pemutahiran data ini. Komunikasi menjadi hal yang sangat penting dalam membangun organisasi ini, untuk itu, lewat media sosial, WA group diharapkan menjadi media komunikasi yang efektif setiap pengurus.

Pendaftaran online anggota Pomparan Raja Lumban Gaol

Sementara itu, Penasehat Punguan Parsaoran Lbn Gaol dan Bernard Lumban Gaol lewat kata sambutan yang mereka sampaikan sangat mengharapkan adanya penigkatan kepedulian setiap anggota kepada punguan. Hal yang yang disoroti adalah regenerasi para parsinabung atau raja parhata melalui kaderisasi akan dilakukan untuk yang kedua kalinya.

 

Meluruskan Si Boru Lopian dan Tor Naginjang atau Barita Mopul Lumban Gaol, Ihutan Bius Huta paung

February 3, 2016

tor naginjang“SINAMBUL”

HAMI NAMARSIAK BAGI

HUMOKHOP TANO NI DEGE

DOHOT LANGIT NI JUNJUNG

Ompu Tor Naginjang {Barita Mopul Lumban Gaol} Ihutan Bius Huta paung

Salah satu tokoh yang mengikuti pertemuan para Ihutan Bius di Ri Nibolak Lintong Bakkara Tahun 1883( no urut 5)

1} Bius Sagala-Appagiling Sagala

2} Bius Sihotang- O THapoltahan Sihotang

3} Bius Tamba- A. Huasas Tamba

4} Bius Tanjung Bunga- Ompu Parik Nadeak

5} Bius Huta Paung- Ompu T. Naginjang

6} Bius Situmorang – Aek Nauli {keturunan Malela Raja}

7} Bius Lintong {tuan rumah}

(hal 226 Sitor Situmorang dalam” Toba Na Sae”) nomor urut 5) tertulis Bius Huta Paung-Ompu T. Naginjang, yang benar/koreksi Ompu Tor Naginjang, Dia adalah Ompung dari si Tor Naginjang, tunangan/pariban boru Lopian. Putri Raja Sisingamagaraja ke XII.

Dalam buku yang ditulis oleh Drs Gens G Malau dan Dr Payaman J. Simanjuntak, APU. “Lopian boru Sinambela” hal 66 terbitan Partukkoan Dalihan na Tolu. Jelas sekali terlihat fungsi dari Bius Huta Paung yang menjadi basis pelatihan pasukan sukarela Baginda Raja yang dilatih oleh pendekar-pendekar Atjeh disana. Sebagai bukti, disana ada sebuah Tambok (danau kecil) bernama tambok Atjeh. Mungkin tambok atjeh sekarang tak seindah masa itu lagi. Bius Huta Paung menerima pasukan Raja itu, Sebagai konsekwensi ikrar bersama yang disepakati bersama tahun 1883 di Bakkara.

Selanjutnya, Sisingamangaraja XII dan Ompu Tor Naginjang (Barita Mopul) sepakat menjadikan Huta Paung sebagai basis latihan bagi pemuda-pemuda Batak. Pasukan relawan ini dilatih para hulubalang dari Atjeh. Suasana di Huta Paung yang menjadi basis pertahanan garis belakang, ketika itu sangat ramai. Pada dasarnya Huta Paung adalah mata rantai jalur tradisional yang menghubungkan jalur Bakkara, Huta Paung, Dairi atau sebaliknya.

Menurut tutur/ turi-turian yang kami dapat mengenai Boru Lopian dengan Tor Naginjang adalah sebuah hubungan yang direstui semua fihak. Baik itu bius Bakkara maupun Huta Paung. Mereka berdua adalah pasangan yang serasi. Hubungan dua orang yang diharapkan dapat meneruskan dan menegakkan harkat bangso Batak ini, tidak main-main. Ompung mereka berdua telah bersumpah untuk bahu membahu melawan pendudukan Belanda. Artinya mereka adalah anak-anak yang tak luput dari sumpah tersebut. Sebagai mana umumnya bangso Batak yang terkenal teguh pada sumpahnya. Pada tahun-tahun itu, beberapa bius sudah mulai menjadi elaborator Belanda. Seperti menjadi penghubung bagi Belanda dan Sisingamangaraja XII demi menarik keuntungan sendiri.

Dengan demikian Belanda semakin dekat dengan jejak Raja Sisingamangaraja.

Mengetahui hal tersebut , Raja dari Bakkara ini sangat berhati-hati dalam memberikan kepercayaan. Demikianlah Tor Naginjang mendapat kepercayaan dari keluarga Sisingamangaraja untuk mendampingi Lopian paribannya itu. Namun seperti umumnya hubungan marpariban, yang sering dihinggapi cerita mistis. Akhirnya mati dan tidak diketemukan jasadnya sampai saat ini. Ketika Raja dan pasukannya yang tinggal belasan orang itu terdesak dari Sionom hudon di Dairi, Tor Naginjang yang sudah sekarat, karena mengalami luka-luka yang parah. Terpaksa dengan berat hati dia ditinggalkan disebuah desa.

Namun, sampai kini tak ada satupun yang dapat menemukan jejak jasadnya. Nasib kedua kekasih tersebut memang ironis. Di sisi lain mereka berdua telah menggenapkan sumpah leluhur mereka. Dengan tidak menyerah kepada Belanda sampai titik darah penghabisan. Disusul kemudian kematian sang Raja tahun 1907. Dibukanya jalan jalur Dolok Sanggul-Sidikkalang, sebenarnya memutus Bakkara dari jaringan aliansi biusnya, yang tradisional. Disilah kepicikan Belanda terbugkus rapih sehingga orang tidak lagi beroriantasi pergi ke Bakkara.

Sampai pemerintahan yang sekarang berkuasapun, jalur ini tetap tidak dibuka. Perkembangan dari cerita sejarah sekitar pengungsiannya ke Sionom Hudon, Raja dari Bakkara itu sepertinya berjalan sendiri tanpa dukungan dari keturunan Barita Mopul yang mempunyai pengaruh sampai ke Dairi, sangat tidak masuk akal. (Halaman 77 buku boru Lopian) Di Huta Paung, mereka menemui Raja Lumba Gaol yang sebelumnya sudah menerima sebahagian pasukan baginda dilatih dan bermukim disana. Hubungan keduanya cukup akrab, dan ada ikatan pamili. Kutipan dari hal 77 ini cukup untuk menjelaskan bahwa si Boru Lopian adalah Pariban kandung dari Tor Naginjang. Kekerabatan bukan satu-satunya alasan kebersamaan mereka. Ikrar politik yang dicanangkan Ompung mereka berdua, yaitu Sisingamangraja XI dan Barita Mopul, Ompu Tor Naginjang di Ri Nibolak 1883 itu lah yang mengikat mereka. Hal ini sering dilupakan orang bahwa kalau Ompu-Ompu kita Martonggo tu Debata adalah sumpah yang akan terus dibawa oleh keturunanya.

Demikianlah jalan hidup Si Boru Lopian dan Si Tor Naginjang sebagai Pariban yang sejak semula dibangun dengan kesadaran Politik bercampur dengan mistisifikasi “Dalihan na Tolu”. Berikutnya hal 113

Ketika Welsink mengajak Sisingamangaraja bertemu di Parbuluan. Ajakan itu ditolak Raja atas nasehat Ompu Babiat Situmorang bersama ama ni Mopul (koreksi) Barita Mopul. Dua tokoh ini mempunyai pengaruh sampai Dairi. Karena semangkin banyak saja orang yang tergiur dengan janji-janji Welsink. Pada tangal 27 Oktober 1890 Guru Somalaing pardede dan Modigliani naik perahu (Ducth} menuju Bakkara. (Catatan Modigliani dalam Toba Na Sae hal 334). Pada kesempatan tersebut , saya berhasil meyakinkan mereka bahwa kalau mereka bersama dengan saya, maka roh {begu} itu tidak perlu ditakuti’

“Tetapi di atas sana juga `musuh`,”kata mereka. Kemungkinan besar pendapat mereka itu benar, sebab di balik gunung itu terletak Huta Paung dan Parsingguran, tempat pasukan Sisingamangaraja masih berkeliaran {bergerilya, S.S}.

Kutipan dari buku Sitor Situmorang dari Toba Na Sae di atas tadi, membuktikan bahwa Bius Huta Paung memang telah menjadi basis perlawanan yang cukup lama. Mengingat kesepakatan pertemuan pimpinan Bius di Ri Nibolak Lintong Bakkara 1883.

Maka secara politis, bius Huta Paung adalah aliansi politik bius Dinasty Bakkara yang paling dekat. Baik itu ditinjau secara geografis maupun tingkat keamanan bagi keluarga Sisingamangaraja XII..

Sedangkan Parsingguran adalah Huta yang dihuni marga {Marbun no2} Banjar Nahor yang saat itu, masuk dalam bius Huta Paung. Pada waktu itu juga Tentara Belanda dalam hal ini Marsose, tidak dapat melanjutkan pengejaran terhadap Sisingamangaraja XII dari Bakkara ke Huta Paung, karena medan yang terjal, dan pasukan Sisingamangaraja sudah berada di posisi ketinggian Bukit, hulubalang serta panglima-panglima perang Atjeh sudah siap melakukan penyerangan, apabila pasukan Marsose memaksa diri mendaki ke arah Parsingguran.

Makam Tor Nagijang

Belanda tahu akan posisi yang kurang menguntungkan itu. Oleh karena itu, mereka tidak mau mengorbankan pasukan secara sia-sia. Karena jika marsose naik ke Parsingguran, tak ada tempat untuk berlindung karena kontur tanah disana hanya ditumbuhi ilalang, menanjak dan mendaki bukit. Hal ini terlalu beresiko, maka pasukan Belanda pun terpaksa harus kembali berputar lewat rute Lintong ni Huta Siborong-borong menuju Dolok Sanggul, Matiti, ke Huta Paung.

Saat itu belum dibuka, jalan raya lintas Dolok Sanggul-Sidikalang. Sesampainya Di Huta Paung, Belanda sangat murka dan membakar kampung Lumban Ganjang berikut Jabu Siharunungon warisan yang sudah berusia ratusan tahun tersebut. Belanda marah karena Raja dan keluarganya sudah diungsikan ke Dairi.

Oleh Jeffar Lumban Gaol*)jeffar

*)Penulis adalah musisi dan pemerhati budaya Batak

 

Pantun Hangoluan Teus Hamagoan

February 2, 2016

batakBukan tois hamagoan, tetapi teus hamagoan. Artinya, sikap santun membawa kehidupan, sementara kesombongan membawa malapetaka. Kira-kira itulah pengertian ungkapan Batak pantun hangoluan, teus hamangoan. Jalan emas untuk hidup, memiliki kesantuan dalam kehidupan. Sementara, ketidaksopanan membawa kehancuran. Pesan moral dari ucapan di atas adalah agar kita santun dalam bersikap.

Konon ungkapan pantun hangoluan teus hamagoan selalu diperkatakan orangtua saat memberangkatkan anaknya merantau. Pesannya, kunci hidup santun pada semua orang. Agar bisa hidup dan diterima di mana pun. Jangan anggap remeh, tata krama yang berlaku dalam satu wilayah. Selalu peduli sebagai sikap hati. Tahu diri. Menghormati setiap orang, sebab jika tidak saja menghancurkan persahabatan, mempersulit diri sendiri.

Kalimat filsafat dari nenek moyang, omputa sijolo-jolo tubu mesti terus diingatkan pada generasi muda. Pesannya jelas, sopan santun jalan kehidupan dan kecongkakan jalan membawa celaka. Pantun ini mempunyai arti lebih luas tak sekedar ucapan sopan. Kita tahun bahwa kata yang sopan perangkat hati. Sikap hati seseorang terlihat dari kata-katanya. Di dalam menjalani hidup ini, sopan atau kesopanan tidak saja hanya norma semata. Ia bisa diterapkan pada tingkah laku dalam pergaulan di semua level. Tata cara berbicara misalnya, harus selalu terjaga agar tetap dalam kepatutan dan kewajaran.

Maksudnya, seseorang akan menggunakan sikap dan tindak-tanduk kehidupannya tak menunjukkan kearoganan. Sopan santun untuk modal hidup. Sementara kesombongan akan membawa musibah. Alih-alih inti dari falsafah tersebut, seseorang harus tahu menempatkan diri. Punya etika. Punya sopan santun, jika ingin survival di kehidupan. Filsafat ini masih aktual di era globalisasi ini. Banyak hal terjadi, karena kurang santun, banyak orang terjerumus, menghancurkan diri sendiri.

Maka, dalam kehidupan modern ini, perilaku manusia tampaknya sekarang cenderung kehilangan etika dan sopan santun. Dalam kehidupan sehari-hari, padahal, etika itu sangat penting untuk diterapkan untuk menciptakan nilai moral yang baik. Dalam kehidupan bermasyarakat, kita semua hidup berdasarkan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Intinya, etika perlu dimiliki. Etika sopan santun penuntun agar tahu cara hidup berdampingan dengan orang banyak. Kalau tak mempunyai etika, bagaimana bisa hidup damai berdampingan? Disinilah fasafah Batak itu penting dipahami dan digumuli.

Penulis, Hotman J Lumban Gaol (Hojot Marluga) keturunan Ompu Paranjak Ulubalang-Sundut XV dari Lumban Gaol. Bahan ini diambil dari bukunya berjudul: “Mereaktualisasi Ungkapan Filosfis Batak Jilid I”

 

Hatop Adong Pinareakna, Lambat Adong Pinaimana

February 2, 2016

 

Batak_Toba_HouseUngkapan ini pesan untuk berpengharapan. Diartikan secara bebas: cepat ada yang dikejar, lambat ada yang ditunggu. Pesan pengharapan, jika terjadi sesuatu yang dirasa lambat. Ada sesuatu yang ditunggu tak kunjung hadir, terasa lama datangnya, tetapi tetap berpengharapan untuk bersabar sejenak. Sering kali karena tak sanggup melewati penantian yang menunggu bersungut-sungut. “Kok lambat,” kira-kira begitu penggalan sungut-sungut orang yang menunggu. Entah menunggu apa saja.

Dalam bahasa Batak “ngernger” juga diartikan lambat, perlahan-lahan, hati-hati. Dari kata ngernger ditarik kalimat “adong pinaimana, hatop adong pinareakna.” Filosofi ini mendalam bagi orang Batak. Ungkapan ini sejurus dengan ungkapan orang Jawa alon-alon asal kelakon. Filosofi ini bukan berarti pelan-pelan asal terlaksana. Maksudnya, dalam mengerjakan sesuatu nggak perlu kemrungsung bukan berarti suka lambat, tetapi jika dalam menjalani hidup penuh dengan kehati-hatian, perlu pertimbangan dalam membuat keputusan.

Kata ungkapan di atas menyiratkan pesan agar hati-hati, penuh pertimbangan ketika melakukan segala sesuatu. Baik mencari pekerjaan, mencari jodoh. Sebaiknya tidak dilakukan secara terburu buru, tapi dijalankan dengan penuh hati-hati. Baik-buruknya perlu dipikirkan terlebih dahulu, dampak yang mungkin timbul. Membuat keputusan dengan nalar, akal sehat, rasio. Memutuskan segala sesuatu yang dijalankan tidak asal asalan, tapi penuh pertimbangan. Setiap membuat keputusan tak karena dipenuhi keinginan cepat. Sebab memperoleh hasil instan atau menghalalkan segala cara pada akhirnya tak baik. Berarti, dalam menanti sesuatu ada tujuan.

Jadi, ungkapan Batak ini bukan hanya sekedar berpesan untuk berhati-hati saja, lambat asal selamat, tapi mesti disertai kehati-hatian, pertimbangan, akal sehat, nalar, dan tujuan yang jelas dan mampu menggapainya. Contoh konkret, jika Anda ingin lebih cepat untuk mencapai tujuan, Anda harus meningkatkan kecepatan dan terus mempertahankan kecepatan, itu. Tetapi, ini diminta untuk tetap sabar, lewati seluruh proses. Orang Batak memfalsafahkan ungkapan lambat ada yang ditunggu, cepat ada yang dikejar, mengandung nilai yang masih relevan hingga sekarang ini.

Alih-alih betapa perlunya nilai ketelitian, kecermatan. Orangtua yang banyak pengalaman kelihatannya lamban, tak tergesa-gesa, karena ia itu teliti. Sudah banyak makan garam kehidupan yang getir. Tak mau seperti terantuk pada patok yang sama untuk kedua kalinya. Sementara, orang muda yang masih kurang pengalaman, belum banyal makan garam kehidupan yang getir, memandang hidup ini dari segi ketergesahan. Cepat, semangat meledak-letup, rasa optimisme yang berlebihan, maka ia itu bertindak serba cepat, tergesa-gesa pada hasilnya kerap tak maksimal.

Nilai cermat dan cepat ini perlu dijadikan satu sistem, yaitu saling membingkai. Cermat diberi berbingkai cepat dan cepat berbingkai cermat. Artinya, orangtua yang lamban karena ingin cermat, didukung oleh orang muda supaya mempercepat langkah. Sebaliknya, jika orang muda terlalu cepat, berakselerasi, orangtua menahan, menarik kebelakang. Ini namanya mendapat bijaksana.

Maka ungkapan di atas tak berlaku secara umum, yakni situasional dan berbingkai. Situasional karena adanya pernyataan asal selamat, artinya ada ranjau yang menghadang, maka gerak-gerik perlu diperlambat. Menyempurnakan cara bertindak karena ruang lingkup dibatasi, yang dikejar bisa diprediksi, sementara masih menunggu karena masih ada harapan. Kalau yang dikejar itu bergerak ataupun yang datangnya hanya sekilas, maka ingatlah cerita dalam hikayat.

Lambat ada yang ditunggu cepat ada yang dikejar, maksudnya bukan hanya pesan untuk mencarai jodoh hal ini dipakai. Memang ungkapan ini sering ditautkan pada mereka yang mencari jodoh. Padahal, prinsip ini bisa digunakan di ruang-ruang apa saja. Bahkan, dalam pekerjaan. Contoh saja, semua pekerjaan apabila dikerjakan dengan ihklas dan jujur pasti akan berhasil. Pesannya, agar terus berpengharapan, semangat diri untuk terus tingkatkan daya juang–memerangi kemiskinan.

Di portibi namangilas on. Molo ro angka parungkilon. Manang parir ngolum. Manang posi, manang dangol, manang mandoit parniahapanmu. Unang ho mardandi. Toguma tontong haporseonmu. Tuhan i do ma partanobatoanmu. Alih bahasanya, jika di dunia yang getir ini. Jika Anda menghadapi keruwetan hidup. Atau pahit hidupmu, sakitkah itu, sulitkah itu, atau kehidupanmu terasa berat seperti disengat. Jangan Anda undur. Tetap punya pengharapan, imanmu tetap teguh. Tuhanlah menjadi batu karangmu menghadapi hidup yang sulit, itu pesan moralnya.

Penulis, Hotman J Lumban Gaol (Hojot Marluga) keturunan Ompu Paranjak Ulubalang-Sundut XV dari Lumban Gaol. Bahan ini diambil dari bukunya berjudul: “Mereaktualisasi Ungkapan Filosfis Batak Jilid I”

 

 

 

foto: https://en.wikipedia.org/wiki/Rumah_adat

Ompu Paranjak Ulubalang

February 2, 2016

Tugu Paranjak Ulubalang

Sekilas tentang Ompu Paranjak Ulubalang

Apa sebenarnya arti Paranjak Ulubalang? Diambil dari dua kata; “Anjak” dan “Ulubalang.” Sedangkan kata “Par” hanyalah kata kerja bantu tambahan, yang dalam bahasa Indonesia disebut bisa jadi “peng.” Paranjak (bahasa Batak) berarti penginjak jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Sedangkan Ulubalang artinya pemimpin atau panglima perang. Maka dari sanalah muncul kata “pangulu balang” diartikan patung bersifat magis berguna untuk menjaga kampung atau ladang dari serangan musuh.

Dan dari sana juga muncul kata “hinaulubalang” yang diartikan seorang dipilih dan diupah untuk melawan musuh. Jadi, arti sesungguhnya Paranjak Ulubalang ialah seorang panglima perang yang pertama menginjakkan kaki sebagai tanda perang. Konon dulu, dalam tradisi nenek moyang Batak, jika terjadi perang yang berada di barisan paling depan adalah panglima perang.

Dialah yang di depan yang pertama mengangkat kaki, lalu menginjakkannya dengan keras ke tanah, sebagai tanda bagi pasukan untuk berperang. Hanya saja, tak ada data yang jelas menyebut Paranjak Ulubalang sebagai panglima perang. Tetapi, bisa jadi benar dulunya dia seorang panglima.

Kelemahan kita, tak memiliki dan memelihara tradisi menulis. Paranjak Ulubalang sendiri, sebagaimana kita tahu bersama, anak ketiga dari sebelas bersaudara, anak dari Raja Sianggasana. Menikah dengan boru Sitorus Pane. Dari keturunannya lahir empat anak; Ompu Sumillam, Ompu Saudara, Ompu Buha Ujung (Manaretua), dan Ompu Juara Oloan.

Saat ini tugu dari Ompu Paranjak Ulubalang berada di Aek Nauli, Dolok Sanggul. Setelah sekian lama direncanakan dipugar, akhirnya pemugaran tugu Ompu Paranjak Ulubalang selesai dan diresmikan pada 13 Juli 2013, di Desa Aek Nauli, Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan. Jumalah keturunan dari Ompu Paranjak Ulubalang di Jabodetabek sendiri lebih kurang seratus kepala keluarga.

Penulis, Hotman J Lumban Gaol (Hojot Marluga) keturunan Ompu Paranjak Ulubalang-Sundut XV dari Lumban Gaol

Next Page »