Dr. Harapan Lumban Gaol

Istimewa

Dr. Harapan Lumban Gaol

Seorang birokrat di Kementerian Sosial Republik Indonesia yang dalam setiap nafas kehidupannya selalu memohon petunjuk Tuhan, dan itupulalah slogan hidup yg selalu ia jalankan. Terlahir sebagai anak keempat dari keluarga sederhana di Kabupaten Dairi, sejarah hidup Harapan Lumban Gaol adalah jalan berliku yang menapaki kerasnya kehidupan dengan modal ulet. Tak banyak sahabat seangkatannya ketika sekolah dasar dapat mengikuti jejaknya yang kemudian tercetak tegas.

Sejak menapaki karier di Kementerian Sosial, ia telah beberapa kali menduduki jabatan Direktur sebelum posisi sekarang yakni menjadi Sekretaris Badan Pendidikan Penelitian Pelatihan dan Penyuluhan Sosial.

Memilih karier menjadi pegawai negeri sipil dan pertama kali ditugaskan di pedalaman Kalimantan Tengah tepatnya di Barito Selatan, tak menyurutkan semangatnya untuk terus berjuang. Dengan rendah hati ia dapat bekerja mendampingi warga pedalaman Kalimantan sebagai calon pegawai negeri sipil di awal kariernya tersebut. Kemudian dengan kerja keras pula ia berhasil menyelesaikan pendidikan Doktornya dari FISIP Universitas Indonesia tahun 2000-2005 dengan beasiswa pemerintah. Selanjutnya ia terus maju melangkah hingga mampu melanjutkan pendidikan postdoc di beberapa universitas di Jerman yakni Heidelberg University, Rot Kruiz Universiteit dan Greifswald Universiteit dengan beasiswa pemerintah Jerman tahun 2006-2007. Dengan modal pendidikan itu ia banyak diundang utk menjadi pembicara di dalam dan di luar negeri tentang berbagai program pemerintah.

Selain pendidikan formal dia juga banyak mengikuti seminar dan pelatihan internasional serta berbagai penugasan di beberapa negara Eropa, Australia, Asia, Afrika, India, Amerika Latin. Pada ranah komunitas internasional dia pernah menjadi focal point untuk poverty alleviation mewakili pemerintah Indonesia pada lembaga Comcev Turki pd tahun 2013-2015.

Di dalam Negeri, Pak Gaol, begitu ia biasa dipanggil para koleganya adalah pengajar di beberapa universitas untuk program S1, S2 dan S3. Di FISIP UI ia adalah dosen tamu, co-promotor dan penguji ahli untuk program doktor. Ia juga aktif mengajar di beberapa perguruan tinggi swasta.

Dr. Harapan dan istri, Dra. Maria Rosanna Sitepu, MSi.

Harapan Lumban Gaol tak pernah lupa menyebut nama pendampingnya tercinta Dra. Maria Rosanna Sitepu, MSi., yang juga bekerja sebagai pegawai Pemprov DKI Jakarta ketika berbicara mengenai kehidupannya. Bersama ketiga buah hatinya Pratami Ajenia, Kevin Tongam Anggatama dan Grace Trikana, mereka selalu mensyukuri berkat yang Tuhan curahkan. “Saya dan istri sejak SD sekolah di negeri dan bekerja juga sebagai pegawai negeri. Maka anak anak juga kami dorong kuliah di perguruan tinggi negeri. Puji Tuhan mereka semua dapat kuliah di universitas negeri pilihan mereka”, begitu dia menggambarkan pendidikan anak anaknya.

“Kamu bisa menjadi apa saja yang kamu mau asal kamu berani bermimpi, berani melakukan dan berserah kepada Tuhan”, kalimat itu yang selalu dibisikkannya dalam memotivasi anak anak dan para mahasiswanya. Satu hal yang selalu ia bagikan kepada anak anak muda yang ditemuinya adalah budaya membaca. Menurutnya membaca haruslah menjadi kebiasaan jika ingin maju.

Hits: 55

Tarabintang Tanah Leluhur Meha Lumban Gaol

Secara geografis, Kecamatan Tarabintang berada di antara dua kecamatan yaitu Pakkat dan Parlilitan. Kecamatan ini adalah kecamatan termuda di Kabupaten Humbang Hasundutan yang merupakan pemekaran dari Kecamatan Parlilitan.   Laetoras, Sibongor, Sirpang Tellu, Onggel, Siantar-Sitanduk, Simbara, Napacingkam, Marpadan, Tarabintang adalah nama-nama desa/dusun di kecamatan ini. Tarabintang berasal dari dua kata, yaitu Tara dan Bintang. Tara, tare (Bahasa Toba) yang artinya tengadah, meminta, memohon, mengharap. Bintang bermula dari kata bentang, lalu menjadi jadi kata bintang yang artinya tinggi di langit. Jadi Tarabintang memiliki arti mengharapkan cita-citanya setinggi bintang.

Dahulu kala, seorang pria bernama Raja Niaji, salah satu cicit Sianggasana merantau meninggalkan Pollung ke pedalaman ke arah barat melintasi perbukitan Dolok Pinapan dan lembah Tanah Rambe yang didiamin oleh keturunan-keturunan Raja Sumerham. Raja Niaji selain sakti juga seorang yang bijak dan pintar serta pandai bergaul sehingga ia mudah saja diterima dipetualangannya mencari daerah baru. Ia kemudian berdiam di satu tempat dan mendirikan gubuk persinggahan. Kemudian, tempat persinggahanya itu kemudian hari dikenal sebagai Situmba, artinya “orang yang datang dari Toba.” Kata Sintuba berasal dari kata sian Toba.  Raja Niaji kemudian menikah dan berketurunan hingga beberapa generasi di sana.

Salah seorang cucunya yang terkenal adalah Raja Meka-meka, yang berhasil menjadi penguasa di wilayah itu. Raja Meka-meka menikah dengan boru Cibro dan mempunyai empat orang anak, yaitu :

1.Meka Perburu mendiami dusun Lae Hundulan dan Lae Kapur

2.Meka Perbentang mendiami dusun  Rambingan dan Lae Toras

3.Meka Penjala  mendiami dusun Rambung

4.Meka Pengultop meninggal muda (tidak berketurunan)

 

Sebutan Meka Perburu adalah karena selain bertani mereka sering berburu di hutan dan hasil buruannya selalu banyak.  Meka Perbentang seorang petani, tetapi ahli dalam strategi berburu. Sehingga setiap abangnya Meka Perburu beraksi, maka Meka Parbentang inilah yang memasang alat Bentang, yaitu semacam jerat dengan harapan memudahkan perburuan mereka. Sambil menunggu jerat, mereka selalu berdoa dan menengadah ke atas berharap binatang datang menghampirinya. Karena keahlianya berburu dengan bentang inilah maka keturunanya kemudian dinamai Meka Parbentang.

Anak Raja Meka-meka yang ketiga digelar dengan Meka Penjala adalah karena dia tidak seperti kedua abangnya yang suka berburu, anak ketiga ini lebih suka memanfaatkan aliran-aliran sungai yang desar itu sebagai sumber pencaharian tambahan. Salah seorang putranya yaituTuan Sumiring, menurunkan Marga Mungkur.

Di antara ketiga anak Raja Meka-meka ini, yang menetap di daerah asalnya adalah Meka Perbentang. Karena pekerjaannya yang berburu dengan Bentang tersebut, daerah yang didiaminya lambat laun menjadi dikenal sebagai Perbentang. Seiring dengan bertambahnya populasi penduduk baik keturunan dari Raja Meka Parbentang ini, maupun semakin banyaknya pendatang baru dari Toba, pesisir dan lain-lain maka dusun itu berubah menjadi Tarabentang. Kemudian, dari kata Tarabentang, berubah kembali menjadi Tarabintang hingga sekarang.

 

Penulis : Seven Boys Meha
* Seorang pemerhati sosial tinggal Bekasi

Hits: 217

Pengesahan Panitia Natal dan Pesta Bona Taon 2018

Badan Pengurus Harian secara resmi mengesahkan Panitia Bona Taon 2018 Punguan Pomparan ni Raja Lumban Gaol di rumah ketua umum, S. Lumban Gaol SH di kawasan perumahan Usman Harun Jakarta Timur. Lewat sambutan yang disampaikan, ketua umum memberikan mandat penuh kepada seluruh panitia yang diketuai oleh Maringan Lumban Gaol MM sehingga acara yang akan dihelat pada 21 Januari 2018 itu sukses, meriah, berkesan dan memberi manfaat kepada seluruh punguan.

 

Selain Ketua umum, Sekjen J Lumban Gaol juga memberikan point – point tambahan yang perlu diperhatikan seperti akan dimulainya penerapan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga di bulan Januari dan belum selesainya pemutahiran data base keanggotaan punguan. Sekjen samngat berharap, lewat panitia bona taon ini, pemutahiran data itu akan selesai di dua bulan kedepan.

 

Hits: 519